Semangkuk Depresi
Di sebuah sore yang hampir habis, sang lelaki menemukan
semangkuk sesuatu di tepi jalan.
Ia tidak tahu apa namanya. Warnanya terlalu pucat untuk disebut
makanan, terlalu pekat untuk disebut air. Ia hanya tahu, sesuatu di dalamnya
telah lama diam.
Ia melewatinya. Beberapa langkah kemudian, ia kembali. Mangkuk
itu dibawanya pulang.
Sejak malam itu, ia mulai menyadari sesuatu yang aneh: setiap kali ia merasa telah membuang satu isinya, sesuatu yang lain muncul. Harapan orang lain. Pekerjaan yang belum selesai. Paket yang belum dibayar. Wajah yang seharusnya sudah dilupakan. Mimpi yang pernah ia kubur sendiri. Dan suara-suara kecil yang selalu tahu bagaimana membuatnya merasa tidak cukup.
Ia tidak pernah memasukkannya. Tetapi mangkuk itu terus penuh.
Anehnya, di luar rumah ia tetap menjadi lelaki yang sama.
Ia tertawa ketika harus tertawa. Menjawab ketika ditanya. Berjalan ketika
dipanggil. Bahkan kadang-kadang ia terlihat lebih kuat daripada orang-orang
yang tidak membawa apa-apa.
Hanya mangkuk itu yang tahu bahwa setiap pulang, ia
menjadi sedikit lebih sunyi.
Tiba saatnya orang-orang mulai datang. Mereka tidak melihat isi mangkuk. Mereka hanya melihat seorang lelaki yang memegangnya. Lalu mereka mulai menunjuk ke mana ia harus berjalan:
“Bawalah ke sana.”“Letakkan di
sini.” “Jangan seperti itu.” “Seharusnya begini.”
Mereka berbicara seolah hidup sang lelaki adalah jalan yang pernah mereka lalui. Seolah mereka tahu belokan mana yang harus diambil, bahasa apa yang dipakai, doa apa yang musti dipanjatkan dan bahkan siapa yang pantas disebut sesama.
Ketika sang lelaki memilih jalan yang berbeda, mereka
menyebutnya keras kepala. Ketika ia diam, mereka menyimpulkannya sebagai penipu. Ketika ia
berkata tidak, mereka menganggapnya tidak tahu berterima kasih.
Mereka tidak sedang berjalan bersamanya. Mereka hanya
ingin menentukan ke mana kakinya harus pergi. Dan sang lelaki menurut.
Sebab ada masa ketika seseorang lebih takut mengecewakan
orang lain daripada kehilangan dirinya sendiri. Sampai suatu hari mangkuk itu
hampir tumpah.
Ia menatapnya.
Untuk pertama kalinya ia berkata, “Tidak.” Hanya satu kata. Tetapi setelah itu, beberapa
orang pergi. Dan setelah mereka pergi, mangkuk itu justru terasa jauh lebih
berat.
Hingga malam itu sang lelaki membawanya ke meja kurban. Ia tidak berdoa agar mangkuk itu dihancurkan. Ia hanya meletakkannya di sana. Lalu duduk. Cukup lama.
Tidak terjadi apa-apa. Tuhan tidak mengambilnya.
Tidak ada suara. Tidak ada tanda.
Hanya seorang lelaki dan sebuah mangkuk yang sama-sama
diam.
Namun ketika ia hendak pulang, ia melihat sesuatu yang belum pernah diperhatikannya. Di dasar mangkuk itu ada sebuah pantulan; Wajahnya sendiri.
Ia terdiam.
Barangkali selama ini ia terlalu sibuk membuang isi
mangkuk hingga lupa bertanya siapa yang terus mengisinya.
Malam itu ia membawa mangkuk itu pulang. Bukan untuk
menghabiskannya. Bukan pula untuk membuangnya. Ia hanya meletakkannya di
samping jendela. Sejak saat itu, setiap pagi ia membuka tirai. Kadang mangkuk
itu masih penuh. Kadang hampir kosong. Kadang hanya berisi bayangan.
Ia tidak lagi terburu-buru mengubah isinya. Ia hanya
belajar mengenali apa yang memang miliknya dan apa yang selama ini ditaruh
orang lain ke dalam hidupnya. Sebab mungkin, ada orang-orang yang tidak pernah
benar-benar ingin kita bahagia. Mereka hanya ingin kita bahagia menurut ukuran
mereka. Dan barangkali itulah salah satu luka paling sunyi: ketika seseorang
terlalu lama hidup di dalam kehendak orang lain, sampai suatu hari ia tidak
lagi mengenali suara kehendaknya sendiri.
Sejak hari itu, sang lelaki tidak lagi bertanya, “Bagaimana cara mengosongkan mangkuk ini?”
Ia lantas berpikir sebaiknya segara melanjutkan perjalanannya.

Komentar