Postingan

LITANI

Gambar
Ada perjalanan yang tidak pernah benar-benar dimulai dengan langkah. Ia bermula dari sesuatu yang kecil: sebuah percakapan yang tidak sengaja menetap di kepala, sebuah tatapan yang lewat terlalu cepat, atau nama seseorang yang tiba-tiba terdengar berbeda ketika disebutkan. Lelaki itu tidak pernah tahu kapan semuanya berubah. Pada mulanya, perempuan itu hanyalah satu dari sekian banyak manusia yang berpapasan dengannya dalam perjalanan. Tidak ada alasan untuk menoleh dua kali. Tidak ada tanda bahwa percakapan-percakapan sederhana akan meninggalkan jejak yang begitu sulit dibaca. Perempuan itu sendiri adalah seseorang yang mudah menemukan kekaguman. Ia dapat melihat sesuatu yang indah pada banyak orang. Hari ini seseorang membuatnya tertarik, esok mungkin ada sosok lain yang membuat matanya berbinar. Ia seperti memiliki banyak jendela di dalam dirinya, dan dari masing-masing jendela itu, selalu ada seseorang yang sedang ia kagumi. Lelaki itu mengetahui hal tersebut. Mungkin...

Lelaki yang Tinggal di Seberang Jembatan

Gambar
Di sebuah kota tua, ada sebuah jembatan yang tidak pernah selesai dibangun. Orang-orang menyebutnya Jembatan Separuh. Tidak ada yang tahu siapa yang memulai pembangunannya. Tiangnya berdiri kokoh dari kedua sisi sungai, tetapi bagian tengahnya dibiarkan kosong. Dua ujung jembatan itu saling berhadapan, cukup dekat untuk saling melihat, tetapi terlalu jauh untuk saling menyentuh. Orang-orang kota menganggapnya sebagai kegagalan. “ Konyol sekali ,” kata mereka. “ Untuk apa membangun sesuatu yang tidak bisa digunakan? ” Di salah satu sisi sungai, tinggallah seorang lelaki. Ia sering duduk di bawah tiang jembatan ketika senja datang. Bukan karena ia ingin menyeberang. Ia bahkan tidak pernah mencoba mencari perahu. Ia hanya menyukai cara matahari jatuh di permukaan sungai dan bagaimana dua sisi yang tidak pernah bertemu itu tetap berdiri menghadap satu sama lain. Suatu hari, seorang perempuan datang dari seberang. Awalnya, perempuan itu hanya lewat. Kemudian, ia mulai berhenti. Lalu, entah ...

Lelaki dan doa(jalan)nya yang panjang

Gambar
Setelah  berhenti cukup lama_lelaki itu kembali berjalan. Bukan karena ia tahu ke mana jalan akan membawanya, melainkan karena ia sadar; ada saat ketika seseorang harus pergi meskipun belum menemukan tempat untuk berhenti. Di sepanjang perjalanan, ia belajar satu hal sederhana: tidak semua yang mengikuti harus diajak berjalan bersama. Ada bayangan yang selalu setia berada di belakang tubuh. Ia mengikuti ketika matahari tinggi, memanjang ketika sore, bahkan kadang tampak lebih besar daripada pemiliknya sendiri. Namun, bayangan tetaplah bayangan. Ia tidak pernah benar-benar memiliki langkah. Dulu ia sering menoleh. Setiap kali merasakan sesuatu di belakang, ia berhenti dan memastikan. Apakah bayang itu masih ada? Apakah bayangan masih mengikuti? Apakah sang lelaki itu harus menunggu? Semakin sering ia menoleh, semakin lambat langkahnya. Sampai suatu ketika ia mengerti: mungkin yang membuat perjalanan terasa berat bukanlah sesuatu yang mengikutinya, melainkan kebiasaanny...

Lelaki yang Menunggu Penerbangan Berikutnya

Gambar
Pagi itu seorang lelaki duduk di pojok ruang tunggu bandara. Di sekelilingnya, manusia berlalu-lalang seperti halaman-halaman buku yang dibalik terlalu cepat. Ada yang berlari mengejar waktu, ada yang memeluk perpisahan, ada yang menyembunyikan kerinduan di balik secangkir kopi dan tatapan yang sengaja diarahkan ke luar jendela. Sementara lelaki itu hanya duduk diam. Di hadapannya, landasan membentang seperti sebuah kalimat panjang yang belum selesai ditulis. Pesawat-pesawat datang dan pergi membawa manusia menuju tujuan masing-masing. Namun ia tahu, tidak semua perjalanan memiliki tujuan yang dapat ditemukan pada peta. Sebagian hanya menjadi lembaran cerita usang yang berusaha dirapikan oleh mereka yang masih peduli pada jejak-jejak yang ditinggalkan waktu. Tetapi ada satu perjalanan yang berlangsung jauh di dalam diri. Sejak fajar menyingsing, lelaki itu telah meninggalkan satu kota menuju kota yang lain. Langit yang sama menaunginya sepanjang hari, tetapi setiap jam yang b...

Perjalanan yg Tidak Pernah Sampai

Gambar
Ada seorang lelaki yang selalu berjalan. Tidak ada yang tahu dari mana ia berasal. Bahkan ia sendiri mulai lupa nama kampung halamannya. Yang ia ingat hanyalah satu hal: suatu hari ia merasa hidupnya terlalu sepi untuk tinggal diam. Maka ia pergi. Awalnya ia mengira perjalanan adalah tentang menemukan tempat terbaik untuk menetap. Ia mendaki gunung, menuruni lembah, menyeberangi laut, memasuki desa-desa  yang dipenuhi cahaya. Setiap tempat memberinya harapan baru: “Mungkin di sinilah akhir pencarianku.” Tetapi setiap kali ia tiba, sesuatu di dalam dirinya kembali gelisah. Ketika miskin, ia berpikir uang akan menenangkan jiwa. Saat uang datang, ia menemukan kesepian yang lebih mahal dari kemiskinan. Ketika ia dikenal banyak orang, ia justru kehilangan dirinya sendiri di tengah suara-suara yang memanggil namanya; tidak sedikit orang menambahkan gelar di belakangnya. Ketika ia memilih hidup sunyi, pikirannya sendiri berubah menjadi keramaian seperti di persawahan saat musim panen ...

Kanvas Kehidupan_Pukul 00:00 WITA

Gambar
Ada perasaan yang datang seperti seorang peziarah: tidak membawa tuntutan untuk tinggal, tetapi juga tidak sepenuhnya siap untuk pergi. Ia hanya berdiri di batas-batas yang samar, di antara jarak dan kedekatan, seperti seseorang yang singgah di beranda rumah orang lain; tahu bahwa rumah itu hangat, lampunya menyala, ruang tamu tertata dan di dalamnya ada kemungkinan yang diberi nama bahagia. Namun pada saat yang sama ia juga sadar bahwa pintu itu tidak sepenuhnya miliknya untuk diketuk terlalu lama. Perasaan semacam itu tidak selalu ingin merebut. Kadang ia hanya ingin duduk sebentar di tangga, menikmati cahaya yang tumpah dari jendela, menikmati sebatang rokok yang tertinggal di saku celana, seolah-olah sebagian kehangatan itu boleh ikut dirasakan. Namun hati dicipta tidak sepenuhnya rasional. Ada saat ketika rasa itu percaya bahwa kebahagiaan bisa dijalani bersama, seperti dua orang yang tanpa sengaja menemukan jalan yang sama di persimpangan perjalanan. Tetapi di waktu lain, ia sad...