Kanvas Kehidupan_Pukul 00:00 WITA
Ada perasaan yang datang seperti seorang peziarah: tidak membawa tuntutan untuk tinggal, tetapi juga tidak sepenuhnya siap untuk pergi. Ia hanya berdiri di batas-batas yang samar, di antara jarak dan kedekatan, seperti seseorang yang singgah di beranda rumah orang lain; tahu bahwa rumah itu hangat, lampunya menyala, ruang tamu tertata dan di dalamnya ada kemungkinan yang diberi nama bahagia. Namun pada saat yang sama ia juga sadar bahwa pintu itu tidak sepenuhnya miliknya untuk diketuk terlalu lama. Perasaan semacam itu tidak selalu ingin merebut. Kadang ia hanya ingin duduk sebentar di tangga, menikmati cahaya yang tumpah dari jendela, menikmati sebatang rokok yang tertinggal di saku celana, seolah-olah sebagian kehangatan itu boleh ikut dirasakan. Namun hati dicipta tidak sepenuhnya rasional. Ada saat ketika rasa itu percaya bahwa kebahagiaan bisa dijalani bersama, seperti dua orang yang tanpa sengaja menemukan jalan yang sama di persimpangan perjalanan. Tetapi di waktu lain, ia sad...