Postingan

ORION

Gambar
  Sejak kecil ia disapa Orion; kata ayahnya ia nanti akan jadi pemburu hebat, yang bisa menguasai hutan rimba dengan begitu banyak pohon alasan dan tipuan. Orion tumbuh jadi manusia dengan banyak ide di kepala; kadang akal-akalannya jadi senjata andalan untuk berburu. Didukung dengan paras dan pembawaannya yang tampak lemah; ia perlahan tumbuh seperti yang ayahnya pikirkan 28 tahun lalu. Bahkan mungkin lebih hebat dan mematikan dari perkiraan ayahnya. Orion tidak pernah takut kehilangan satu orang. Ketakutan itu terlalu kecil untuk ukuran dirinya. Yang ia takuti adalah kehilangan kemungkinan tentang siapa dirinya bisa menjadi. Ia menunda keputusan dengan kata-kata yang terdengar dewasa. Terdengar tenang dan seakan menawarkan kedamaian. Ia menyebutnya kehati-hatian, padahal itu hanya cara lain untuk menghindari keberanian. Orion masih menggenggam yang lama. Bukan karena cinta yang utuh, tetapi karena kehadiran itu adalah bukti bahwa ia pernah cukup berarti bagi seseorang. Selama...

Semoga Senja Kita Masih Sama

Gambar
Ia tidak ingat sejak kapan senja menjadi topik perdebatan. Dulu senja hanyalah jeda; waktu ketika siang menyerah tanpa perlawanan dan malam datang tanpa suara. Ia hadir begitu saja, tanpa perlu disapa. Sampai suatu hari, ia mendapati senja diminta dari orang lain. Bukan permintaan yang tergesa. Tidak juga penuh rahasia. Kalimatnya ringan, hampir tak bermakna, sebatas pesan sederhana di awal tahun, tampak seolah hanya ingin menyimpan warna langit sebelum gelap. Namun justru dari kalimat yang terkesan ringan itulah, ia terasa berat. Sebab yang ringan sering kali menyimpan niat yang tak berani diberi bobot. Ia tidak bertanya. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia sedang belajar memahami: tidak semua luka ingin dijelaskan, sebagiannya cukup untuk disadari. Akhirnya, ingatan mengantarnya ke tepian pantai yang dipenuhi rumput dan karang; tempat mereka pernah mengejar langit dengan jingga yang tenang. Mereka tak pernah mempersoalkan jarak, apalagi jalan yang harus diciptakan ...

Nomor Antrean 1

Gambar
Pagi di rumah sakit itu masih setengah hidup. Lantai koridor baru dipel, masih licin dan berbau karbol. Petugas kebersihan berjalan perlahan, menyeret ember, sementara sinar matahari menerobos kaca besar di ujung ruangan, memantul di lantai yang basah seperti cahaya yang sedang mencari arah. Di antara deretan kursi tunggu, seorang lelaki dengan kalung hitam di lehernya duduk sendirian. Ia menggenggam selembar kertas bertuliskan Nomor Antrean 1. Nomor pertama, namun tidak ada loket yang buka. Komputer belum menyala, dokter belum datang, petugas pendaftaran belum juga muncul. Di atas meja administrasi, jam dinding berdetak lambat, seolah waktu ikut malas memulai hari. Tidak ada suara manusia yang cukup hidup untuk mengusir sepi. Yang terdengar hanya dengung lampu neon dan langkah sepatu yang sesekali melintas. Sedang di halaman depan beberapa tampak lari terbirit-birit karena terlambat. Ia datang terlalu pagi; mungkin karena terbiasa bangun sebelum fajar, atau mungkin karena diam-dia...

Sebuah catatan_-NAM AIR IN641

Gambar
Di ketinggian tiga puluh ribu kaki (sebut saja), seorang lelaki duduk diam di antara denting mesin dan udara tipis yang nyaris tak bergerak. Dari jendela kecil pesawat, dunia tampak kecil dan tak banyak keributan; bak paradoks dalam sebuah perjalanan. Ia telah lama hidup di bawah bayang-bayang abstrak: menjadi tenang, menjadi teguh, menjadi percaya, menjadi seperti yang diharapkan banyak mata. Tapi semakin keras ia mencoba memenuhinya, semakin ia kehilangan keping-keping dari dirinya sendiri. Ekspektasi bukan lagi sekadar dorongan, melainkan kabut yang menutupi pandangan; membuatnya ragu apakah semua yang sedang ia tapaki  masih   disebut  layak? Dalam kepalanya, tuduhan-tuduhan kecil berkeliaran seperti serangga di cahaya: tak pernah benar-benar menyakitkan, tapi cukup untuk mengusik. Dipaksa menjelaskan apa yang bahkan tidak pernah menjadi bayangan. Entah berapa orang yang percaya; atau sekadar merasa bahwa ada jenis ketakutan yang tak bisa dijelaskan; bukan takut ...

Monolog

Gambar
  Dari kejauhan, sang lelaki menatap sebuah bangku kayu yang bersandar tenang pada pohon lontar di ujung taman. Bangku itu tampak biasa saja; kecil, usang, diam, sepi, dan tak menarik bagi mata yang terburu. Namun pada diamnya, ia menyimpan isyarat yang padat makna: percakapan-percakapan yang tak pernah selesai, canda dan tawa yang pernah bergema, tuntutan yang dibalut lebih halus dalam bentuk sembayang dan luka-luka dari beragam manusia yang pernah ditinggalkan di sana. Bangku kayu itu tidak sesederhana seperti yang ditangkap oleh mata sang lelaki. Ia bukan sekadar tempat duduk atau spot untuk beristirahat; bukan sekadar persinggahan sementara bagi tubuh yang lelah. Ia adalah saksi; (menjadi bekas) tempat segala hadir dan pergi, menyatu dalam keheningan yang tak menuntut . Ia tak goyah, meski terkadang lama tak diduduki. Ia tetap berdiri, seperti pohon lontar di belakangnya, tegak dalam kesendirian, dan seakan bersedia menua dalam keteguhan, jika ia boleh sedikit memaksa ken...

"Querida: surat untuk yang tak pernah dibaca"

Gambar
  “Pasti rasanya sakit ketika kau sadar akulah penyesalanmu yang paling indah, yang datang terlalu tepat ketika lukamu belum benar-benar sembuh, yang kau pegang saat tangan sedang tak ingin menggenggam” Pagi itu adalah khairos, bukan sekadar pagi biasa, tapi waktu di mana dirinya menemukan hening yang paling jujur. Tampak sang lelaki dengan mimpi yang bertumpuk di ujung jari kembali merajut perjalanan suci. Kali ini ia berikhtiar menemukan tempat yang tenang. Bukan lagi untuk bertapa, bukan pula untuk menetap. Ia hanya ingin diam, beberapa saat, di sudut tulisan yang tak menuntut apa-apa. Jemarinya kaku bukan karena lama tak menyusun aksara, tapi karena suara-suara di kepalanya yang tidak pernah benar-benar diam. Hingga ia tiba pada perhentian pertama: “Tak semua yang pergi bisa kembali. Tapi tak semua yang tinggal, benar-benar hadir” Ia menatap kalimat itu lama, seolah ada sebagian dari dirinya yang tertinggal di antara spasi dan tanda titik. Pada bagian lembar kosong, ia ...

Hidup Terlalu banyak Aminnya.

Gambar
Pada suatu hari yang membosankan, sang lelaki merangkai keributan di kepalanya. Tentang banyaknya amin yang bertebaran pada lembaran percakapan manusia hari ini. Ia baru saja kehilangan orang yang paling ia cinta, ya setidaknya dulu sang lelaki pernah berpikir untuk menghabiskan sisa waktu bersamanya. “Benar bahwa kematian hanyalah satu dari sekian banyak hal di bumi yang tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun. Kadang kita berpikir bahwa hidup itu penuh rahmat; penuh berkat tapi di satu sisi kita menyangkal saat berjumpa dengan apa yang dinamakan kehilangan. Kadang kita memberontak saat bersua dengan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Tidak bisa menentukan keputusan untuk memilih atau menolak. Hidup mengalir tanpa permisi, berjalan tanpa meminta izin, bebas tanpa kendali. Dan pada akhirnya pada banyak kesempatan kita hanya bisa berkata -amin”. Sang lelaki menyelesaikan satu paragrafnya. Ia masih harus mengurus kudanya. Kuda yang ia anggap sebagai malaikat yang Tuhan hadiakan u...