REDA_
[Sebuah kisah tentang perjalanan, doa, dan keberanian untuk tidak lagi menjadi alasan bagi seseorang kehilangan ketenangannya] Dahulu, lelaki itu selalu memiliki alasan untuk berada di dekatnya. Kadang ia menyebutnya kebetulan. Kadang ia menyebutnya kebutuhan. Kadang ia hanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang belum selesai, meski ia sendiri tidak pernah benar-benar tahu apa yang dimaksud dengan selesai. Waktu berjalan dengan caranya sendiri. Tidak tergesa, tetapi juga tidak pernah kembali. Hampir satu dekade luka itu mengajarinya satu hal: tidak semua yang sakit harus dicari obatnya di tempat luka itu bermula. Maka ia belajar berjalan. Ia belajar menambal dirinya dengan hari-hari yang baru, dengan kesibukan, dengan doa-doa yang perlahan berubah dari permintaan menjadi penerimaan. Ia belajar bahwa manusia kadang tidak sembuh karena menemukan seseorang yang baru, melainkan karena akhirnya mampu duduk sendirian bersama bayangannya sendiri tanpa lagi merasa harus melarikan diri. Seben...