Semangkuk Depresi
Di sebuah sore yang hampir habis, sang lelaki menemukan semangkuk sesuatu di tepi jalan. Ia tidak tahu apa namanya. Warnanya terlalu pucat untuk disebut makanan, terlalu pekat untuk disebut air. Ia hanya tahu, sesuatu di dalamnya telah lama diam. Ia melewatinya. Beberapa langkah kemudian, ia kembali. Mangkuk itu dibawanya pulang. Sejak malam itu, ia mulai menyadari sesuatu yang aneh: setiap kali ia merasa telah membuang satu isinya, sesuatu yang lain muncul. Harapan orang lain . Pekerjaan yang belum selesai. Paket yang belum dibayar. Wajah yang seharusnya sudah dilupakan. Mimpi yang pernah ia kubur sendiri. Dan suara-suara kecil yang selalu tahu bagaimana membuatnya merasa tidak cukup. Ia tidak pernah memasukkannya. Tetapi mangkuk itu terus penuh. Anehnya, di luar rumah ia tetap menjadi lelaki yang sama. Ia tertawa ketika harus tertawa. Menjawab ketika ditanya. Berjalan ketika dipanggil. Bahkan kadang-kadang ia terlihat lebih kuat daripada orang-orang yang tidak membawa apa-apa. H...