Lelaki yang Menunggu Penerbangan Berikutnya

Pagi itu seorang lelaki duduk di pojok ruang tunggu bandara.

Di sekelilingnya, manusia berlalu-lalang seperti halaman-halaman buku yang dibalik terlalu cepat. Ada yang berlari mengejar waktu, ada yang memeluk perpisahan, ada yang menyembunyikan kerinduan di balik secangkir kopi dan tatapan yang sengaja diarahkan ke luar jendela.

Sementara lelaki itu hanya duduk diam.

Di hadapannya, landasan membentang seperti sebuah kalimat panjang yang belum selesai ditulis. Pesawat-pesawat datang dan pergi membawa manusia menuju tujuan masing-masing. Namun ia tahu, tidak semua perjalanan memiliki tujuan yang dapat ditemukan pada peta. Sebagian hanya menjadi lembaran cerita usang yang berusaha dirapikan oleh mereka yang masih peduli pada jejak-jejak yang ditinggalkan waktu.

Tetapi ada satu perjalanan yang berlangsung jauh di dalam diri.

Sejak fajar menyingsing, lelaki itu telah meninggalkan satu kota menuju kota yang lain. Langit yang sama menaunginya sepanjang hari, tetapi setiap jam yang berlalu terasa seperti lapisan waktu yang sedang terkelupas perlahan dari batinnya.

Bandara ini hanyalah tempat singgah.

Namun bukankah sebagian besar kehidupan juga demikian? Manusia datang dengan rencana-rencananya. Duduk sejenak di ruang tunggu dunia. Menunggu panggilan yang tidak pernah benar-benar diketahui waktunya. Lalu berangkat lagi menuju tujuan yang sering kali tidak sepenuhnya dipahami.

Di sela-sela jeda penerbangan itu, ia menyadari sesuatu.

Barangkali manusia tidak pernah benar-benar pergi ke mana pun. Barangkali sepanjang hidupnya, manusia hanya sedang berputar-putar mencari jalan pulang. Terjebak dalam siklus yang sama. Mengejar apa yang jauh, lalu merindukan apa yang dekat. Mengagumi yang baru, lalu diam-diam mencari yang lama.

Bukan pulang kepada sebuah alamat. Bukan pula kepada sebuah bangunan yang memiliki pintu dan jendela. Melainkan pulang kepada sesuatu yang lebih tua daripada ingatan. Sesuatu yang diam-diam membentuk dirinya sejak awal. Ada panggilan yang telah lama mengetuk kesadarannya. Panggilan itu tidak bersuara. Tidak berteriak.

Ia hadir seperti pohon tua yang mulai kehilangan sebagian daunnya ketika musim berganti. Dari kejauhan pohon itu masih tampak tegak, tetapi mereka yang mengenalnya sejak lama tahu bahwa waktu sedang mengerjakan tugasnya dengan sabar.

Dan waktu memang selalu sabar.

Ia tidak merobohkan bukit-bukit dalam semalam. Ia hanya mengambil sebutir demi sebutir batu sampai suatu hari manusia menyadari bahwa bentuk yang dahulu dikenalnya telah berubah. Mungkin ada banyak luka yang dipahat manusia bersama egonya pada tebing-tebing yang dulu hangat memeluk pepohonan rindang. Kini sebagian pepohonan itu telah berganti menjadi bangunan-bangunan tinggi. Akarnya berubah menjadi hitung-hitungan pemilik modal. Udara yang dulu menyimpan nyanyian burung perlahan digantikan dengung mesin dan suara transaksi.

Namun waktu tidak pernah berhenti mencatat.

Ia menyimpan semuanya. Yang tumbuh. Yang hilang. Yang mulai ternoda dan tidak suci lagi. Yang terlupakan. Dan yang terlambat disadari.

Di ruang tunggu itu, pandangan lelaki itu berhenti pada seorang anak kecil yang tertidur di bahu ayahnya. Lelaki itu memandang beberapa saat.

Anak itu tertidur dengan tenang seolah dunia tidak memiliki ancaman apa pun. Barangkali karena ia percaya bahwa bahu yang menopangnya akan selalu kuat. Tetapi waktu mengajarkan sesuatu yang berbeda kepada orang-orang dewasa. Bahwa tidak ada bahu yang selamanya kokoh.  Tidak ada pohon yang selamanya hijau. Tidak ada musim yang tinggal selamanya. Dan tidak ada kehadiran yang boleh dianggap abadi.

Lelaki itu mengalihkan pandangan.

Ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin kerinduan. Mungkin penyesalan. Mungkin kesadaran bahwa ada hal-hal yang selama ini ditunda dengan keyakinan bahwa waktu masih panjang.

Bertahun-tahun ia berjalan seperti kebanyakan manusia. Mengejar horizon yang selalu menjauh setiap kali didekati. Mengumpulkan pencapaian demi pencapaian. Menata mimpi demi mimpi. Menulis renungan demi renungan.  Menyucikan kurban demi kurban di atas altar yang dibangun oleh ambisinya sendiri.

Namun semakin jauh langkahnya melintas dunia, semakin sering ia bertemu dengan pertanyaan yang sama:

Dari mana sebenarnya seseorang bertumbuh?

Dari keberhasilannya?

Ataukah dari akar-akar yang tidak pernah terlihat?

Pikirannya melayang kepada sebuah pohon tua yang berdiri sendirian di padang luas. Burung-burung datang dan pergi dari dahannya. Musim berganti di sekelilingnya. Angin dan hujan silih berganti mengujinya. Tetapi pohon itu tetap bertahan. Bukan karena cabangnya kuat. Bukan karena daunnya lebat. Melainkan karena sesuatu yang tidak terlihat terus bekerja di kedalaman tanah.

Betapa anehnya kehidupan.

Manusia sering mengagumi apa yang tampak di permukaan, sementara yang sesungguhnya menopang hidup justru tersembunyi dari pandangan.

Pengumuman keberangkatan kembali terdengar.

Suara itu memecah lamunannya seperti lonceng gereja yang hanya dibunyikan pada waktu-waktu tertentu. Orang-orang mulai bergerak. Tas-tas diangkat. Langkah-langkah kembali disusun. Alis mata dirapikan. Parfum diam-diam disentuhkan pada tubuh yang berharap dikenang oleh orang lain.

Sementara waktu terus berjalan tanpa peduli siapa yang siap dan siapa yang belum. Namun lelaki itu masih duduk beberapa saat lagi. Melalui dinding kaca, ia memandang langit siang yang luas tanpa batas. Langit selalu mengajarkan satu hal yang sama: bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar dimiliki manusia. Ia hanya dipinjamkan.

Dipinjamkan untuk sementara.

Dipinjamkan untuk dicintai.

Dipinjamkan untuk dijaga.

Dipinjamkan agar manusia belajar bersyukur sebelum kehilangan.

Di balik hamparan biru itu, burung-burung terbang tanpa peta. Namun mereka selalu menemukan arah pulang. Mungkin karena ada sesuatu yang lebih besar daripada sayap mereka. Sesuatu yang diam-diam menuntun. Dan mungkin manusia pun demikian.

Tidak semua perjalanan membutuhkan kepastian. Sebagian hanya membutuhkan keberanian untuk menjawab panggilan yang tidak sepenuhnya dimengerti.

Pengumuman terakhir terdengar.

Lelaki itu akhirnya berdiri. Di pundaknya tergantung sebuah tas perjalanan. Di dalam dadanya tergantung sesuatu yang jauh lebih berat: kesadaran bahwa setiap perjalanan pada akhirnya bukanlah tentang seberapa jauh seseorang melangkah.    Melainkan tentang keberaniannya kembali kepada hal-hal yang selama ini memberinya alasan untuk berjalan.

Ia melangkah menuju lorong sempit yang menghubungkan ruang tunggu dengan pesawat. Sebuah lorong yang dipenuhi cahaya pucat dan gema langkah kaki manusia.

Di ujung lorong itu terbentang langit. Dan di ujung langit itu, ada sesuatu yang telah lama memanggilnya pulang. Ia tidak tahu apa yang akan ditemuinya ketika perjalanan ini berakhir. Ia hanya tahu bahwa beberapa perjumpaan tidak boleh dibiarkan berubah menjadi kenangan sebelum waktunya.

Lalu lelaki itu terus berjalan.

Dan di luar sana, langit yang sama masih terbentang luas. Seolah sedang membuka jalan bagi seorang lelaki yang sepanjang hidupnya mengira sedang mencari dunia, padahal diam-diam sedang mencari dirinya sendiri.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog

"Querida: surat untuk yang tak pernah dibaca"

Lelaki di Sepanjang Kisah