REDA_

[Sebuah kisah tentang perjalanan, doa, dan keberanian untuk tidak lagi menjadi alasan bagi seseorang kehilangan ketenangannya] 

Dahulu, lelaki itu selalu memiliki alasan untuk berada di dekatnya.

Kadang ia menyebutnya kebetulan.
Kadang ia menyebutnya kebutuhan.
Kadang ia hanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang belum selesai, meski ia sendiri tidak pernah benar-benar tahu apa yang dimaksud dengan selesai.

Waktu berjalan dengan caranya sendiri. Tidak tergesa, tetapi juga tidak pernah kembali.

Hampir satu dekade luka itu mengajarinya satu hal: tidak semua yang sakit harus dicari obatnya di tempat luka itu bermula.

Maka ia belajar berjalan.

Ia belajar menambal dirinya dengan hari-hari yang baru, dengan kesibukan, dengan doa-doa yang perlahan berubah dari permintaan menjadi penerimaan. Ia belajar bahwa manusia kadang tidak sembuh karena menemukan seseorang yang baru, melainkan karena akhirnya mampu duduk sendirian bersama bayangannya sendiri tanpa lagi merasa harus melarikan diri.

Sebenarnya, ia pernah sampai di sana.

Pernah.

Namun manusia memang makhluk yang aneh. Setelah bertahun-tahun belajar melepaskan, suatu hari ia bisa kembali berdiri di depan pintu yang sama—bukan karena ingin masuk, tetapi sekadar ingin tahu apakah pintu itu masih mengenal ketukan yang dahulu.

Hari itu, lelaki itu kembali menyapa.

Ia tidak membawa bunga.
Tidak membawa janji.
Bahkan tidak membawa masa lalu secara utuh.

Ia hanya membawa sepasang tangan yang sudah lama belajar kosong.

Tetapi yang datang kepadanya bukanlah perjumpaan yang ia bayangkan.

Ada pintu yang tertutup lebih keras dari yang disangka.
Ada kata-kata yang tajam meski sebentar.
Ada sesuatu yang terasa seperti tamparan, tetapi terlalu halus untuk disebut kekerasan dan terlalu dalam untuk dianggap biasa.

Lelaki itu terdiam.

Barangkali memang demikian cara waktu mengajarkan bahwa seseorang dapat berubah menjadi tempat yang sama sekali berbeda, meskipun alamatnya masih sama.

Dulu, luka itu seolah memiliki nama.

Kali ini, lelaki itu sadar bahwa mungkin kehadirannyalah yang menjadi luka.

Dan kesadaran semacam itu tidak membutuhkan banyak kata.

Ia hanya membutuhkan keberanian untuk berhenti mengetuk.

Sebab ada sesuatu yang lebih kuat daripada keinginan manusia: doa yang telah lama dilantunkan seseorang untuk menemukan ketenangan.

Jangan memaksa sesuatu yang bahkan sudah didoakan agar pergi.

Lelaki itu akhirnya mengerti.

Selama ini yang ia lawan bukan lagi sebuah hati.

Ia sedang berhadapan dengan doa-doa yang mungkin telah berulang kali dipanjatkan pada malam-malam yang tidak ia ketahui; doa yang tumbuh dari alasan-alasan panjang, dari kegelisahan yang tak pernah ia dengar, dari keheningan yang mungkin selama ini disembunyikan di balik banyak kata.

Dan siapa dirinya hingga merasa berhak mengalahkan doa seseorang?

Maka ia berhenti.

Bukan karena kalah.

Melainkan karena untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa mencintai sesuatu tidak selalu berarti mempertahankannya.

Kadang mencintai berarti tidak lagi menjadi alasan mengapa seseorang harus merasa tidak tenang.

Sebab ada bentuk kasih yang tidak meminta tempat.

Ia hanya memilih tidak mengganggu.

Lelaki itu kemudian melihat kembali jejak-jejaknya sendiri. Ia menemukan bahwa beberapa usaha yang dulu ia kira sebagai ketulusan ternyata mungkin hanya cara lain untuk menunda perpisahan.

Setiap langkah yang ia anggap mendekat, mungkin justru membuat luka semakin terbuka.

Setiap penjelasan yang ia kira dapat menjernihkan, mungkin hanya menambah riak pada air yang sedang belajar tenang.

Dan kerisihan, pikirnya, adalah kutukan yang paling sunyi.

Ia tidak membunuh apa-apa.

Ia hanya membuat seseorang tidak pernah benar-benar merasa pulang.

Karena itu, kali ini lelaki itu memilih sesuatu yang sederhana:

membiarkannya hidup bersama pikirannya sendiri.

Tanpa mengetuk.
Tanpa bertanya.
Tanpa mengirimkan alasan baru untuk membuka percakapan lama.

Barangkali itulah jawaban yang paling baik yang masih bisa ia berikan.

Bukan karena ia tidak peduli.

Justru karena ia akhirnya peduli pada ketenangan yang tidak lagi melibatkannya.

Dan lelaki itu tahu, ia sebenarnya tidak sedang takut kehilangan seseorang.

Yang ia takutkan hanyalah kehilangan sesuatu yang pernah begitu akrab dengannya:

sepasang telinga yang seolah diciptakan untuk mendengar hal-hal yang tidak sanggup ia katakan kepada dunia;

sepasang mata yang selalu menemukan sesuatu yang baik bahkan ketika dirinya sendiri tidak mampu melihatnya;

sebuah hati yang entah bagaimana tahu kapan ia sedang lelah, bahkan sebelum lelaki itu sempat mengakuinya;

dan sebuah suara yang sering kali mampu mengelabui banyak hal—termasuk kesedihan yang diam-diam sedang bersembunyi di dalam dirinya.

Tetapi mungkin begitulah hidup bekerja.

Ada orang-orang yang datang bukan untuk tinggal.

Mereka datang untuk menjadi semacam rumah yang pernah kita kenal, lalu suatu hari mengajarkan bahwa rumah pun dapat memiliki pintu yang tidak lagi terbuka untuk kita.

Dan kita tidak boleh marah kepada pintu itu.

Sebab pintu hanya menjalankan tugasnya.

Yang harus belajar adalah orang yang berdiri di luarnya.

Malam itu, lelaki tersebut tidak lagi mencari alasan untuk kembali.

Ia hanya duduk di ujung perjalanan, memandang jendela kamar yang tak lama kemudian gelap tanpa sapa sepata ucap pun.

Dan sejak malam itu, lelaki itu mulai memahami sesuatu yang dahulu tidak pernah ia mengerti:

Kadang seseorang tetap ada di dunia yang sama, berjalan di bawah langit yang sama, mungkin bahkan sesekali melihat bulan yang sama.

Hanya saja, jalan mereka tidak lagi perlu saling berpapasan.

Dan mungkin itu bukan akhir yang buruk.

Mungkin itu adalah cara kehidupan menyelamatkan dua orang yang pernah cukup lama berdiri di persimpangan yang sama.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelaki di Sepanjang Kisah

Lelaki yang Menunggu Penerbangan Berikutnya

Monolog