Lelaki yang Merayakan Setahun, dan Rantai yang Belum Putus

 _Terinspirasi dari mitos Prometheus

Ada yang berubah pada lelaki itu setelah satu tahun berlalu. Jubahnya mungkin masih sama, langkahnya mungkin masih menuju altar yang sama, dan dunia di sekelilingnya masih menyimpan suara-suara yang dahulu pernah membuatnya mengecil di hadapan dirinya sendiri. Namun, pada suatu pagi, ia mendapati bahwa waktu telah mengajarinya sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh buku-buku teologi: seseorang dapat menghabiskan satu tahun untuk melayani banyak orang, tetapi tetap belum selesai belajar membebaskan dirinya sendiri.

Ia baru saja merayakan satu tahun sejak minyak suci menyentuh noda tangannya, sejak sebuah nama baru ditambahkan pada perjalanan panjangnya, sejak ia berdiri di hadapan altar dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

Orang-orang menyebutnya perayaan.

Ada ucapan selamat, harap, doa, dan kenangan tentang hari ketika langit seolah-olah membuka jendelanya. Ia tersenyum, menerima semuanya dengan hati yang berusaha lapang. Sebab, bukankah setahun yang lalu ia telah berjanji untuk menjadi roti yang dipecahkan, anggur yang dicurahkan, dan pelita yang membiarkan dirinya terbakar demi menerangi jalan orang lain?

Tetapi malam setelah perayaan itu, ketika bunga-bunga mulai kehilangan kesegarannya dan suara-suara pulang ke rumah masing-masing, lelaki itu kembali berhadapan dengan sesuatu yang tidak ikut difoto dalam perayaan: dirinya sendiri.

Ia mendapati bahwa beberapa hal ternyata tidak berubah.

Masih ada kata-kata yang menjatuhkan sebelum ia sempat menjelaskan. Masih ada suara yang membuat kesalahannya terdengar lebih besar daripada seluruh kebaikan yang pernah dikerjakannya. Masih ada hari-hari ketika ia harus mengukur setiap kalimat, menimbang setiap gerakan, dan meminta izin kepada kecemasan sebelum berani mengambil keputusan.

Ia telah belajar mengampuni, tetapi rupanya belum selesai belajar menjaga dirinya.

Ia telah belajar mendengarkan keluhan orang lain, tetapi belum tahu bagaimana caranya berhenti mendengarkan suara yang terus-menerus menghukumnya.

Dan yang paling melelahkan, ia mulai menyadari bahwa selama ini ia terlalu sering menyebut ketergantungan sebagai kesetiaan, terlalu sering menyebut ketakutan sebagai kerendahan hati, dan terlalu sering menyebut ketidakberdayaan sebagai salib yang harus dipikulnya.

Barangkali ia memang harus memikul salib.

Namun, malam itu, untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam diam: apakah setiap rantai yang melukai harus dipertahankan hanya karena seseorang telah terbiasa menyebutnya sebagai bagian dari pengabdian?

Jauh sebelum lelaki itu lahir, orang-orang Yunani telah menceritakan kisah seorang Titan bernama Prometheus.

Ia mencuri api dari para dewa dan memberikannya kepada manusia. Api itu membuat manusia mampu menghangatkan tubuh, memasak makanan, melebur logam, dan membangun peradaban. Tetapi pemberian itu membuat Zeus murka. Prometheus dirantai pada sebuah batu di pegunungan, sementara seekor elang datang setiap hari untuk memakan hatinya, yang akan tumbuh kembali pada malam hari, agar penderitaannya dapat berulang.

Prometheus memiliki sesuatu yang tidak dapat dirampas Zeus darinya: kesadaran bahwa api yang telah ia berikan tidak lagi menjadi milik para dewa semata.

Namun, lelaki itu merenungkan sebuah sisi lain dari kisah tersebut.

Betapa anehnya nasib seseorang yang memberikan api kepada dunia, tetapi tidak mampu membebaskan tubuhnya sendiri dari rantai.

Ia memikirkan altar, jubah, dan tangannya yang telah ditumpangi banyak harapan. Ia memikirkan orang-orang yang datang membawa luka, lalu pergi dengan hati yang lebih ringan. Ia memikirkan betapa sering dirinya berusaha menjadi cahaya bagi orang lain, bahkan ketika di dalam dirinya sendiri ada ruangan-ruangan yang telah lama gelap.

Lalu ia mengerti sesuatu yang sederhana sekaligus menyakitkan: menjadi berguna bagi orang lain tidak selalu berarti seseorang telah merdeka di dalam dirinya. Ia dapat memberikan penghiburan, tetapi masih membutuhkan keberanian untuk menghadapi penghinaan. Ia dapat berbicara tentang kasih, tetapi masih gemetar ketika kasih itu tidak diberikan kepadanya.  Ia dapat mengajak orang lain berdiri kembali, tetapi masih terlalu sering menunggu seseorang mengulurkan tangan sebelum berani berdiri sendiri.

Dan mungkin, di situlah perjalanan sesungguhnya dimulai.

Bukan ketika seseorang menerima gelar baru, melainkan ketika ia mulai berani melihat bagian dirinya yang masih diperbudak oleh sesuatu yang tidak pernah berani ia namai.

Sejak malam itu, lelaki tersebut mulai memikirkan kebebasan dengan cara yang berbeda.

Dahulu, ia membayangkan kebebasan sebagai sebuah negeri yang jauh, tempat tidak ada seorang pun yang dapat mencacinya, mengatur langkahnya, atau membuatnya merasa tidak cukup. Ia ingin pergi sejauh mungkin dari suara-suara yang menyakitkan itu. Ia ingin menemukan tempat di mana dirinya dapat hidup tanpa harus terus-menerus membuktikan bahwa ia layak dihormati.

Tetapi semakin lama ia berjalan, semakin ia mengerti bahwa negeri semacam itu mungkin tidak pernah ada.

Sebab, manusia selalu membawa sebagian dunia di dalam dirinya. Bahkan setelah meninggalkan sebuah rumah, seseorang masih dapat membawa suara penghuninya di dalam kepala. Bahkan setelah menjauh dari sebuah pintu, seseorang masih dapat hidup seolah-olah harus meminta izin untuk keluar.

Maka, kebebasan barangkali bukan pertama-tama perkara menemukan tempat tanpa penjara, melainkan belajar mengenali pintu yang selama ini dibiarkan tertutup oleh ketakutannya sendiri.

Ia tidak lagi ingin hidup hanya untuk menghindari kemarahan seseorang.

Ia tidak lagi ingin mengukur harga dirinya dari seberapa sedikit orang kecewa kepadanya.

Ia tidak lagi ingin menganggap setiap teguran sebagai vonis atas seluruh keberadaannya.

Ia mulai belajar bahwa menghormati seseorang tidak berarti menyerahkan kepadanya seluruh hak untuk menentukan siapa dirinya. Bahwa mendengarkan kritik tidak sama dengan menerima penghinaan sebagai kebenaran. Bahwa ketaatan tidak mengharuskan seseorang mematikan akal sehat, dan kerendahan hati tidak berarti mengubur harga diri.

Ia masih seorang pelayan. Ia tidak hendak membuang jubahnya, membatalkan janjinya, atau melarikan diri dari panggilan yang pernah dipilihnya dengan segala rasa tidak layak.

Bagi lelaki tersebut, tahun pertama itu adalah sebuah cermin yang memperlihatkan jarak antara apa yang ia janjikan dan apa yang masih harus ia perjuangkan.

Malam semakin larut. Lelaki itu menanggalkan jubahnya dan meletakkannya dengan hati-hati pada teras ingatan yang masih basah. Tidak ada musik, tidak ada bunga, tidak ada ucapan selamat yang tersisa. Hanya dirinya, sebuah kamar yang sunyi, dan masa depan yang belum memberikan janji apa pun.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelaki di Sepanjang Kisah

Lelaki yang Menunggu Penerbangan Berikutnya

Monolog