Rumah yang Selama Ini Ditinggal Penghuninya

 Sudah lama sekali lelaki itu mengenal jalan.

Ia mengenal jalan yang terjal, jalan yang sunyi, jalan yang dipenuhi orang, bahkan jalan yang pada akhirnya tidak membawanya ke mana-mana. Bertahun-tahun ia berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya. Ada banyak hal yang telah berubah sejak perjalanan itu dimulai. Wajahnya berubah. Cara berpikirnya berubah. Orang-orang di sekelilingnya berubah. Bahkan hal-hal yang dahulu ia anggap penting perlahan kehilangan tempatnya.

Namun ada sesuatu yang baru ia sadari belakangan ini.

Ia ternyata lebih pandai mengenal dunia daripada mengenal dirinya sendiri.

Kesadaran itu datang pada suatu sore, ketika langkahnya membawanya ke sebuah rumah tua yang berdiri sendirian di pinggir jalan. Ia tidak tahu siapa pemiliknya. Tidak ada nama di pintunya. Tidak ada tanda bahwa seseorang masih tinggal di sana. Catnya mengelupas, jendelanya berdebu, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar.

Entah mengapa ia berhenti.

Ia berdiri cukup lama di depan pintu, seolah-olah sedang menunggu sesuatu dari rumah itu.

Kemudian ia membukanya.

Di dalamnya tidak ada siapa-siapa.

Hanya barang-barang lama yang tertinggal seperti kenangan yang tidak pernah benar-benar dibereskan. Sebuah meja. Kursi. Buku-buku. Beberapa foto yang mulai menguning.

Ia mengambil salah satu foto.

Seorang anak laki-laki tersenyum dari dalam bingkai.

Ia memandangnya lama.

Ada sesuatu yang terasa akrab dari wajah itu.

“Ini aku,” katanya pelan.

Tetapi setelah mengucapkannya, ia justru bertanya kepada dirinya sendiri,

“Kalau ini aku, mengapa aku merasa tidak mengenalnya?”

Ia meletakkan foto itu kembali.

Mungkin memang demikian manusia. Kita tumbuh begitu cepat sampai suatu hari kita bertemu dengan diri kita yang lama dan merasa seperti sedang bertemu dengan orang asing.

Dulu ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri.

Tidak perlu membuktikan apa-apa.

Tidak perlu menjelaskan siapa dirinya.

Tidak perlu memikirkan apakah orang lain menyukainya.

Tetapi semakin dewasa, semakin banyak suara yang datang.

Kamu harus berhasil.

Kamu harus kuat.

Kamu harus seperti ini.

Kamu tidak boleh seperti itu.

Orang akan berpikir apa?

Orang akan berkata apa?

Ia berjalan semakin jauh ke dalam rumah.

Di sebuah ruangan, ia mendengar suara.

“Aku mau.”

Suara itu terdengar seperti seorang anak kecil yang keras kepala.

Kemudian terdengar suara lain:

“Kamu harus.”

Suara itu lebih tegas, seperti seseorang yang selalu tahu apa yang benar dan salah.

Lalu, dari antara keduanya, terdengar suara yang lebih tenang:

“Berhenti sebentar. Pikirkan. Pilih.”

Lelaki itu terdiam.

Ia akhirnya memahami bahwa ketiga suara itu bukan berasal dari ruangan.

Ketiganya berasal dari dirinya sendiri.

Ada bagian dirinya yang ingin segera mendapatkan apa yang diinginkan. Ada bagian lain yang membawa aturan, nilai, larangan, dan tuntutan. Dan ada bagian yang harus berdiri di tengah semuanya: melihat kenyataan, menimbang, lalu mengambil keputusan.

Ia tersenyum kecil.

Selama ini ia sering menyebut keputusan sebagai pilihan, padahal banyak keputusan dalam hidupnya ternyata hanya hasil dari pertengkaran antara “aku mau” dan “aku harus.”

Mungkin menjadi dewasa bukan berarti tidak lagi memiliki keinginan.

Bukan pula berarti membuang semua aturan.

Barangkali menjadi dewasa adalah ketika seseorang mampu berdiri di antara keduanya dan berkata:

“Sekarang aku memilih.”

Ia bangkit dan melanjutkan langkah.

Di lorong berikutnya ia menemukan beberapa pakaian tergantung di dinding. Ia mengenakan salah satunya. Anehnya, begitu pakaian itu melekat di tubuhnya, ia merasa menjadi orang yang berbeda.

Ia mengenakan pakaian seorang yang kuat.

Kemudian seorang yang bijaksana.

Kemudian seorang yang selalu bahagia.

Kemudian seorang yang disukai semua orang.

Setiap kali mengenakan pakaian yang berbeda, ia merasa lebih mudah diterima.

Sampai akhirnya ia menemukan sebuah topeng.

Ia memakainya.

Seketika rumah itu menjadi ramai.

Ada tepuk tangan.

Ada pujian.

Ada suara yang berkata bahwa ia hebat.

Ia tersenyum.

Untuk sesaat ia merasa menemukan cara paling mudah untuk hidup: menjadi apa yang ingin dilihat orang lain.

Tetapi semakin lama topeng itu melekat, semakin sesak napasnya.

Ia mencoba melepaskannya.

Tidak bisa.

Ia menarik lebih kuat.

Tetap tidak bisa.

Barulah ia menyadari sesuatu yang menyakitkan:

Kadang-kadang topeng tidak sulit dilepaskan karena orang lain yang memasangkannya kepada kita. Topeng sulit dilepaskan karena kita sendiri sudah terlalu lama percaya bahwa tanpa topeng itu, kita tidak akan dicintai.

Ia berhenti menariknya.

Menutup mata.

Lalu perlahan berkata,

“Kalau mereka tidak menyukai wajahku yang sebenarnya, biarlah.”

Anehnya, setelah kalimat itu keluar, topeng tersebut jatuh sendiri.

Ia membuka mata.

Di depannya berdiri sebuah cermin besar.

Ia mendekat.

Namun ia tidak melihat wajahnya.

Yang muncul di sana justru wajah-wajah orang lain.

Wajah mereka yang pernah memujinya.

Wajah mereka yang pernah meremehkannya.

Wajah mereka yang pernah mengatakan bahwa ia harus menjadi seseorang.

Wajah mereka yang pernah membuatnya merasa berharga.

Wajah mereka yang pernah membuatnya merasa tidak cukup.

Ia menyentuh permukaan cermin.

“Di mana aku?”

Tidak ada jawaban.

Ia bertanya lagi,

“Di mana wajahku?”

Perlahan wajah-wajah itu menghilang.

Dan akhirnya ia melihat dirinya sendiri.

Wajah yang tidak sempurna.

Wajah yang pernah kecewa.

Wajah yang pernah salah.

Wajah yang pernah merasa tidak cukup.

Tetapi juga wajah yang masih bertahan.

Ia tersenyum.

Barangkali inilah bagian yang paling sulit dari mengenal diri: menerima bahwa orang yang kita temukan di dalam diri kita tidak selalu sesuai dengan orang yang ingin kita tampilkan kepada dunia.

Ia keluar dari ruangan itu dan membuka jendela.

Di luar rumah, dunia sedang ramai.

Orang-orang berjalan sambil melihat layar di tangan mereka. Mereka tertawa, memotret, membagikan kehidupan, menunjukkan keberhasilan, menunjukkan kebahagiaan.

Ia pernah berada di antara mereka.

Ia pernah merasa bahwa semakin banyak orang mengetahui hidupnya, semakin nyata keberadaannya.

Ia pernah mengira bahwa tanda suka adalah tanda bahwa dirinya diterima.

Ia pernah takut ketika melihat orang lain berjalan lebih cepat.

Temannya berhasil.

Orang lain memiliki pekerjaan.

Orang lain bepergian.

Orang lain mencapai sesuatu.

Dan tanpa sadar ia bertanya,

“Bagaimana kalau aku tertinggal?”

Tetapi sore itu ia melihat semuanya dari kejauhan.

Untuk pertama kalinya ia bertanya,

“Tertinggal dari siapa?”

Ia tidak menemukan jawabannya.

Mungkin selama ini ia memang sedang berlari, tetapi tidak pernah bertanya ke mana.

Ia menutup jendela.

Rumah itu kembali sunyi.

Kini ia mengerti bahwa rumah tersebut bukan sekadar bangunan tua.

Rumah itu adalah dirinya.

Ruang-ruangnya adalah bagian-bagian dirinya yang selama ini jarang ia kunjungi.

Ada keinginan yang tidak pernah ia akui.

Ada tuntutan yang terlalu lama ia patuhi.

Ada keputusan yang belum benar-benar ia pilih.

Ada identitas yang dibentuk oleh pandangan orang lain.

Ada topeng yang dipakai agar diterima.

Ada cermin yang selama ini memperlihatkan dirinya melalui mata orang lain.

Dan ada sebuah rumah yang begitu lama ia tinggalkan, meskipun sebenarnya ia tidak pernah benar-benar pergi dari sana.

Ia berdiri di depan pintu.

Untuk pertama kalinya ia tidak merasa perlu tergesa-gesa.

Ia tahu dunia akan terus bergerak.

Orang-orang akan terus menilai.

Tren akan terus datang dan pergi.

Tuntutan akan semakin banyak.

Suara-suara akan semakin ramai.

Tetapi ia tidak harus kehilangan dirinya hanya karena dunia bergerak terlalu cepat.

Ia menatap rumah itu sekali lagi.

Kemudian berkata pelan,

“Mungkin aku memang belum tahu akan menjadi siapa.”

Ia tersenyum.

“Tetapi sekarang aku tahu, aku tidak ingin menjadi seseorang hanya karena dunia menyuruhku demikian.”

Lalu ia berjalan lagi.

Bukan untuk meninggalkan rumah itu.

Melainkan karena untuk pertama kalinya ia tahu:

ke mana pun ia pergi, ia harus membawa dirinya sendiri.

Dan mungkin, pertumbuhan yang paling penting bukanlah ketika manusia menjadi semakin seperti yang diharapkan dunia.

Melainkan ketika ia semakin berani menjadi dirinya sendiri.

Sebab manusia bukan patung yang selesai dipahat.

Manusia adalah karya yang masih berlangsung.

Dan tugasnya bukan menjadi sempurna.

Tugasnya adalah mengenal siapa dirinya, menerima siapa dirinya, lalu dengan sadar memilih akan menjadi siapa.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog

Lelaki di Sepanjang Kisah

Lelaki yang Menunggu Penerbangan Berikutnya