LITANI

Ada perjalanan yang tidak pernah benar-benar dimulai dengan langkah.

Ia bermula dari sesuatu yang kecil: sebuah percakapan yang tidak sengaja menetap di kepala, sebuah tatapan yang lewat terlalu cepat, atau nama seseorang yang tiba-tiba terdengar berbeda ketika disebutkan.

Lelaki itu tidak pernah tahu kapan semuanya berubah.

Pada mulanya, perempuan itu hanyalah satu dari sekian banyak manusia yang berpapasan dengannya dalam perjalanan. Tidak ada alasan untuk menoleh dua kali. Tidak ada tanda bahwa percakapan-percakapan sederhana akan meninggalkan jejak yang begitu sulit dibaca.

Perempuan itu sendiri adalah seseorang yang mudah menemukan kekaguman.

Ia dapat melihat sesuatu yang indah pada banyak orang. Hari ini seseorang membuatnya tertarik, esok mungkin ada sosok lain yang membuat matanya berbinar. Ia seperti memiliki banyak jendela di dalam dirinya, dan dari masing-masing jendela itu, selalu ada seseorang yang sedang ia kagumi.

Lelaki itu mengetahui hal tersebut.

Mungkin karena itu pula, ia tidak pernah menganggap dirinya istimewa.

Barangkali ia hanya salah satu dari banyak nama yang pernah mendapat tempat dalam percakapan perempuan itu.

Sampai suatu hari, perempuan itu bercerita tentang seorang laki-laki.

Tidak seperti biasanya.

Namanya disebut dengan cara yang berbeda. Ceritanya tidak lagi seperti kisah-kisah ringan tentang seseorang yang menarik perhatian. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat lelaki itu berhenti mendengarkan dunia di sekelilingnya.

Perempuan itu berkata bahwa ia pernah gemetar hanya karena melihat sosok laki-laki tersebut.

Bahwa kedewasaan yang terpancar darinya begitu kuat hingga membuatnya hampir menangis.

Kemudian ia mulai bercerita.

Panjang.

Tentang caranya berbicara. Tentang pembawaannya. Tentang sesuatu yang bahkan sulit ia jelaskan dengan kata-kata. Satu kekaguman melahirkan kekaguman lain, lalu disusul cerita berikutnya, seperti sebuah litani yang tidak pernah selesai dilantunkan.

Lelaki itu hanya diam.

Di hadapannya, perempuan itu seperti sedang berdoa kepada seseorang yang tidak hadir.

Dan anehnya, semakin perempuan itu berbicara, semakin banyak hal di dalam dirinya yang justru menjadi sunyi.

Cangkir di tangannya terasa lebih dingin. Suara-suara di sekitar perlahan menjadi jauh. Angin yang sejak tadi bergerak seperti berhenti pada satu titik.

Ia tidak sedang marah. Tidak pula merasa berhak untuk kecewa. Hanya ada sesuatu yang tiba-tiba kehilangan bentuk.

Sebab untuk pertama kalinya, ia mendengar bagaimana seseorang bisa dikagumi begitu dalam oleh perempuan yang selama ini mungkin juga mengaguminya. Iya mungkin.

Dan di sana ia menemukan sebuah kenyataan yang sederhana sekaligus ganjil : dikagumi tidak selalu berarti dipilih.

Seseorang dapat membuatmu merasa berarti, namun tetap memiliki banyak arah untuk memandang. Seseorang dapat menyebut namamu dengan hangat, tetapi pada waktu yang sama menyimpan kekaguman yang sama hangatnya untuk nama yang lain.

Lelaki itu memahami semuanya. Atau setidaknya, berusaha memahaminya. Namun semakin ia mendengarkan, semakin tumbuh sebuah pertanyaan kecil yang tidak mau mati. Bukan pertanyaan tentang dirinya. Melainkan tentang dua manusia yang sedang ia dengarkan melalui cerita itu.

Apakah benar mereka hanya seperti yang diceritakan selama ini?

Ia tidak tahu.

Mungkin itu hanya prasangka.

Mungkin pikirannya sedang membangun sesuatu dari serpihan-serpihan cerita yang sebenarnya tidak memiliki hubungan apa-apa.

Tetapi ada hal-hal yang kadang tidak membutuhkan bukti untuk mengganggu ketenangan seseorang.

Nada suara.

Jeda.

Cara sebuah nama disebut.

Cara seseorang mengingat detail-detail kecil tentang orang lain.

Caranya membela semua kejahatan yang dikisahkan banyak orang

Semua itu seperti pintu yang hanya terbuka sedikit, cukup untuk membuat seseorang bertanya-tanya tentang ruangan yang ada di baliknya.

Perempuan itu terus bercerita.

Dan lelaki itu terus diam.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Tidak meminta penjelasan.

Tidak mencoba mencari tahu apakah ada kisah yang lebih besar daripada yang pernah diceritakan kepadanya. Ia membiarkan cerita itu selesai dengan sendirinya. Namun beberapa cerita tidak benar-benar selesai ketika percakapan berakhir. Mereka justru mulai hidup setelahnya.

Malam itu, ketika semuanya telah sunyi, lelaki itu masih mengingat suara perempuan tersebut. Ia mulai memahami bahwa mungkin seseorang tidak selalu sedang menceritakan orang lain ketika ia berbicara tentang seseorang. Kadang ia sedang tanpa sadar memperlihatkan bagian dirinya sendiri.

Dan mungkin, itulah yang membuat lelaki itu terus memikirkannya.

Hari-hari berikutnya, ia melanjutkan perjalanan seperti biasa.

Tetapi sesuatu telah berubah.

Ia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak ia pedulikan.

Senja yang turun perlahan di balik hijau persawahan

Jalan yang panjang setelah hujan.

Bayangan pepohonan yang bergerak di atas tanah.

Suara anjing yang berlarian di sekitar jalan, untuk mendapatkan kehangatan.

Dan semakin jauh ia berjalan, semakin ia mengerti bahwa tidak semua perasaan harus segera diberi nama. Ada yang cukup dibiarkan tumbuh. Ada yang cukup dikenali. Ada yang cukup untuk didengar. Ada yang mungkin memang hanya datang untuk mengajarkan sesuatu tentang diri kita sendiri.

Sementara perempuan itu tetap menjadi dirinya.  Tetap menemukan keindahan pada banyak manusia. Tetap bercerita tentang seseorang yang membuatnya gemetar dan hampir menangis.

Dan lelaki itu?

Ia tetap mendengarkan.

Namun kali ini, yang ia dengarkan bukan lagi suara dari luar. Melainkan sesuatu yang jauh lebih sunyi; suara dari dalam dirinya sendiri yang sejak lama memanggilnya untuk pulang.

Pulang dari segala penafsiran.

Pulang dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah memiliki jawaban.

Pulang dari keinginan untuk mengetahui apakah dirinya pernah menjadi sesuatu yang istimewa bagi seseorang.

Ada manusia yang datang hanya untuk membuka sebuah pintu dalam diri kita, lalu pergi tanpa pernah tahu bahwa di balik pintu itu ada dunia yang selama ini kita sendiri tidak pernah kenali.

Perempuan itu mungkin tidak pernah tahu apa yang telah ia tinggalkan.

Mungkin ia tidak pernah menyadari bahwa beberapa ceritanya telah membuat seseorang belajar mengenali dirinya sendiri. Dan mungkin memang demikian seharusnya. Sebab ada pertemuan yang tidak ditakdirkan untuk berakhir dengan kepemilikan.

Ada yang cukup menjadi perjalanan.

Cukup menjadi cermin.

Cukup menjadi sebuah musim yang, meskipun telah berlalu, meninggalkan aroma yang lama tinggal di udara.

Lelaki itu akhirnya tidak lagi bertanya ke mana hati perempuan itu pergi. Ia hanya mau melanjutkan perjalanannya.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelaki di Sepanjang Kisah

Lelaki yang Menunggu Penerbangan Berikutnya

Monolog