Lelaki yang Bertemu Gema
Ia tidak lagi menghitung berapa banyak tikungan yang telah dilewatinya, berapa kali matahari terbit di belakang punggungnya, atau berapa banyak malam yang membuatnya harus belajar tidur ditemani suara angin.
Ada suara langkah sendiri.
Ada suara angin.
Ada suara daun yang bergesekan.
Dan ada suara-suara yang datang dari belakang, meski pemiliknya sudah lama
tidak berjalan bersamanya.
Suatu sore, ketika jalan mulai sepi, lelaki itu mendengar seseorang berkata
kepadanya,
"Tenang saja. Pergilah. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
___dan masih banyak kalimat yang isinya meyakinkan bahwa semua akan
baik-baik saja.
Tapi ia tampaknya lebih mengingat kalimat itu.
Bukan karena kalimatnya istimewa, tetapi karena ia pernah mendengarnya
dengan begitu yakin diucap oleh manusia lain. Kalimat yang tampak begitu
mengusik iklas saat berhadapan dengan jarak dan jedah yang cukup lama.
Beberapa hari kemudian, ketika lelaki itu berhenti di sebuah persimpangan,
ia mendengar suara lain. Suara yang sama. Tetapi kali ini mengatakan sesuatu
yang berbeda.
Lelaki itu terdiam.
Bukan karena marah. Bukan pula karena ingin mencari siapa yang benar.
Ia hanya heran bagaimana satu suara bisa begitu mudah lupa pada kalimatnya
sendiri. [walau kadang ia pun juga mahir memainkan peran serupa]
Ia kemudian
menyadari sesuatu. Barangkali manusia memang seperti rumah tua. Di dalamnya ada
banyak kamar. Di satu kamar, seseorang bisa berkata dengan sangat yakin. Di
kamar yang lain, ia bisa menyangkal perkataannya sendiri. Dan terkadang,
penghuni kedua kamar itu tidak pernah saling berkenalan. Walau mereka sering ada
di tempat yang sama, masing-masing sibuk cosplay menjadi patung; diam,
kaku, dan pura-pura tidak mengenali suara yang pernah keluar dari dirinya
sendiri.
Maka lelaki itu tidak ingin berdebat.
Ia hanya berharap suatu hari, suara-suara itu saling bertemu. Bukan untuk
saling menyalahkan. Hanya untuk duduk sebentar di ruang yang sama, lalu
mendengarkan kembali apa yang pernah mereka katakan.
Sebab ada
hal-hal yang tidak perlu dijelaskan oleh orang lain. Cukup biarkan seseorang
bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Biarkan ia mendengar kembali kalimat
yang pernah keluar dari mulutnya. Barangkali di sanalah kesadaran tumbuh: bahwa
waktu boleh berjalan, ingatan boleh berubah, perasaan boleh berganti, tetapi
kata-kata yang pernah diberikan kepada seseorang tetap meninggalkan jejak. Ini yang
disebut ”bekas” dalam kamus besar filsafat.
Lelaki itu kemudian melanjutkan perjalanan.
Ia tidak membawa catatan untuk mengingatkan siapa pun.
Tidak membawa rekaman untuk membuktikan siapa yang pernah berkata apa.
Ia hanya membawa satu pelajaran: jangan terlalu sibuk meyakinkan orang lain
tentang siapa dirimu, sampai suatu hari kau lupa berbicara jujur kepada dirimu
sendiri.
Di ujung jalan, lelaki itu berhenti sebentar.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya angin yang
melewati pepohonan dan membawa kembali suara-suara lama. Suara yang lambat laun
hilang oleh bayang yang ditangkap oleh mata; menyaksikan sandiwara yang dipentaskan
dengan begitu spontan. Rasa kagum terhadap pilihannya dan lupa akan kata yang
pernah diucap. Seperti doa-doa yang dilantunkan tanpa tuan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menjawabnya.
Ia akhirnya hanya tersenyum kecil. Sambil
berpikir untuk membenturkan kepalanya pada hal-hal yang dulu pernah menjadi
alasan dan membawa berjalan sampai sejauh ini.
Akhirnya ia
mengerti: kadang-kadang, cara terbaik membuat seseorang sadar bukanlah dengan
mengingatkan perkataannya, melainkan membiarkan gema dari perkataan itu kembali
kepadanya.
Dan lelaki itu terus berjalan. Merapikan beberapa simpul yang pernah ia
ikat sendiri, memahami bahwa tidak semua yang kusut harus dipaksa menjadi
lurus, dan tidak semua yang terlepas harus kembali diikat.
Ia sadar, tidak semua yang tidak menyakitkan diberi nama ’masalah’,
beberapa di antaranya hanyalah fakta tentang kebenaran; bahwa ada saat di mana
seseorang menyesali versi dirinya yang pernah percaya terlalu dalam.
Dan mungkin
beberapa musafir yang melakukan ziarah spritual sepakat; itulah bagian paling
sunyi dari perjalanan: ketika seseorang tidak lagi mencari siapa yang salah,
melainkan belajar berdamai dengan kenyataan bahwa beberapa kata memang hanya
akan menemukan kebenarannya setelah waktu selesai menjelaskannya.

Komentar