foodie
Pagi itu, ia berhenti di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Dari dapur tercium aroma yang asing, tetapi entah mengapa terasa akrab. Ia tidak tahu apa yang sedang dimasak. Ia hanya merasa pernah mengenal rasa seperti itu.
Mungkin begitulah cara ingatan bekerja. Ia tidak selalu mengembalikan wajah atau nama. Kadang ia hanya mengirimkan aroma, sepotong lagu, nasi tanpa sambal atau rasa tertentu, lalu membiarkan kita menebak sendiri dari mana semuanya berasal.
Lelaki itu pernah menyukai sebuah rasa.
Ia menikmatinya terlalu lama sampai lupa bahwa selera manusia bisa berubah. Ada orang yang setelah menemukan satu hidangan akan terus kembali ke meja yang sama. Tetapi ada pula yang gemar berpindah, mencicipi menu lain, mencari sesuatu yang menurutnya lebih sesuai dengan lidahnya.
Dan tidak ada yang salah dengan itu.
Yang menjadi sulit adalah ketika sebuah hidangan yang pernah dinikmati kemudian dianggap tidak layak hanya karena seseorang menemukan rasa baru.
Lelaki itu pun pernah melakukan kesalahan. Ia mengakuinya. Kadang ketika ia memasak; ada resep yang keliru, ada takaran yang berlebihan, atau bahkan ada sesuatu yang seharusnya tidak ia sajikan.
Tetapi setelah waktu berjalan, ia mulai mengerti bahwa tidak semua kepergian disebabkan oleh satu kesalahan. Mungkin hanya ada satu bahan yang ia lupakan.
Kadang sebuah kesalahan dibuat-buat hingga dilihat pantas menjadi musebab. Tapi inilah pusaran keterbatasan manusia. Devosinya hanya tentang salah dan benar.
Kadang ia hanya menjadi alasan yang mudah untuk dipakai ketika seseorang memang sudah ingin mencicipi kehidupan di meja yang lain.
Dulu, lelaki itu ingin mengetahui jawabannya.
Sekarang tidak lagi.
Sebab ia belajar dari makanan: soal rasa sampai kapan pun tidak pernah bisa diperdebatkan.
Yang terlalu pahit bagi seseorang mungkin justru menjadi rasa yang dicari orang lain. Yang dianggap biasa oleh satu lidah mungkin menjadi kenangan paling indah bagi lidah yang berbeda.
Begitu pula manusia.
Tidak dipilih bukan berarti tidak berharga.
Tidak dihargai bukan berarti tidak punya alasan untuk ada.
Ia kemudian menghabiskan makanannya.
Perlahan.
Tanpa menoleh ke meja sebelah.
Untuk pertama kalinya ia makan bukan untuk mengingat siapa yang pernah memesan menu yang sama dengannya, melainkan untuk menikmati apa yang masih ada di hadapannya.
Mungkin itulah iklas yang paling sunyi:
berhenti mencari rasa yang enggan dipanggil pulang, lalu belajar menikmati rasa yang disajikan oleh semesta. Entah manis, tawar atau bahkan pahit di mata.
Ia membayar, berdiri, dan kembali ke jalan.
Di belakangnya, kedai itu masih memanggil dengan aroma yang sama.
Tetapi kali ini ia tidak menoleh.
Bukan karena sudah lupa.
Melainkan karena akhirnya ia mengerti; ada rasa yang cukup dihormati, tanpa harus kembali dipaksa untuk ‘…..
.webp)
Komentar