Lelaki yang Tinggal di Seberang Jembatan
Di sebuah kota tua, ada sebuah jembatan yang tidak pernah selesai dibangun.
Orang-orang menyebutnya Jembatan Separuh. Tidak ada yang tahu siapa yang memulai pembangunannya. Tiangnya berdiri kokoh dari kedua sisi sungai, tetapi bagian tengahnya dibiarkan kosong. Dua ujung jembatan itu saling berhadapan, cukup dekat untuk saling melihat, tetapi terlalu jauh untuk saling menyentuh.
Orang-orang kota menganggapnya sebagai kegagalan.
“Konyol sekali,” kata mereka. “Untuk apa membangun sesuatu yang tidak bisa digunakan?”
Di salah satu sisi sungai, tinggallah seorang lelaki. Ia sering duduk di bawah tiang jembatan ketika senja datang. Bukan karena ia ingin menyeberang. Ia bahkan tidak pernah mencoba mencari perahu. Ia hanya menyukai cara matahari jatuh di permukaan sungai dan bagaimana dua sisi yang tidak pernah bertemu itu tetap berdiri menghadap satu sama lain.
Suatu hari, seorang perempuan datang dari seberang. Awalnya, perempuan itu hanya lewat. Kemudian, ia mulai berhenti. Lalu, entah sejak kapan, keduanya mulai terbiasa melihat bayangan masing-masing dari dua sisi sungai.
Mereka tidak pernah membuat janji untuk bertemu. Sebab bahkan sejak awal, keduanya tahu bahwa jembatan itu tidak selesai dan sungai di antara mereka terlalu dalam untuk diseberangi.
Anehnya, justru karena tidak mungkin bertemu, mereka semakin sering datang.
Perempuan itu mulai memperhatikan kapan lelaki itu duduk di bawah tiang jembatan. Jika suatu sore lelaki itu tidak datang, ia akan berdiri lebih lama di seberang sana, seolah sedang mencari sesuatu yang sebenarnya tidak berhak ia cari.
Tetapi perempuan itu adalah seorang pengembara yang telah memiliki jalan lain.
Ia telah memilih sebuah jalan yang membawanya ke arah kota lain, bersama seseorang yang telah berjalan bersamanya cukup jauh. Maka setiap kali ia merasa terlalu lama berdiri di tepi sungai, ia menjadi marah kepada lelaki di seberang.
“Aku tidak suka caramu duduk di sana,” katanya suatu kali.
Lelaki itu tidak menjawab.
“Caramu memandang sungai membuat orang berpikir kau sedang menunggu sesuatu.”
Lelaki itu tetap diam.
“Kau mungkin sebenarnya orang yang buruk,” lanjut perempuan itu. “Mungkin kau hanya senang membuat orang lain bingung.”
Lelaki itu tersenyum kecil.
Bukan karena ia merasa tuduhan itu benar.
Tetapi karena ia tahu, manusia sering kali membenci sesuatu bukan karena sesuatu itu jahat, melainkan karena ia tidak tahu harus meletakkannya di mana dalam hidupnya.
Sejak hari itu, perempuan tersebut semakin sering menemukan kesalahan pada lelaki itu.
Cara bicaranya terlalu dingin.
Diamnya terlalu menyebalkan.
Kehadirannya terlalu mengganggu.
Bahkan ketika lelaki itu tidak datang ke jembatan, perempuan itu masih menemukan sesuatu untuk dipersoalkan.
Ia tidak mengerti mengapa seseorang yang begitu ingin dilupakan justru semakin sering dibicarakan dalam pikirannya sendiri.
Maka suatu malam, perempuan itu memutuskan untuk tidak datang lagi.
Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa sungai itu bukan masalahnya.
Jembatan itu bukan masalahnya.
Dan lelaki di seberang sana, terlebih lagi, bukan masalahnya.
Ia hanya harus berhenti melihat ke arah sana.
Hari pertama, ia berhasil.
Hari kedua, ia hampir berhasil.
Hari ketiga, ia mulai bertanya-tanya apakah lelaki itu masih duduk di bawah tiang jembatan.
Hari keempat, ia membenci dirinya sendiri karena masih bertanya.
Barulah ia mengerti sesuatu yang selama ini tidak ingin diakuinya: menjauh dari seseorang tidak selalu berarti kita telah pergi. Kadang tubuh memang berjalan ke arah lain, tetapi pikiran diam-diam tetap tinggal di tempat yang sama.
Sementara itu, lelaki di seberang sungai tetap duduk seperti biasa.
Ia tidak memanggil.
Ia tidak melambaikan tangan.
Ia tidak meminta perempuan itu kembali.
Ia tahu ada hal-hal dalam hidup yang menjadi rumit justru ketika manusia berusaha memahaminya.
Malam itu, seorang tua yang sedang memancing di dekat sungai bertanya kepadanya,
“Kenapa kau tidak membangun perahu?”
Lelaki itu menatap dua ujung jembatan yang menggantung di atas air.
“Tidak semua jarak harus diseberangi,” jawabnya.
“Lalu mengapa kau tetap datang?”
Lelaki itu berpikir cukup lama.
“Mungkin,” katanya akhirnya, “karena beberapa perjumpaan tidak diberikan untuk membawa kita ke tempat yang sama. Mungkin mereka hanya datang agar kita mengetahui bahwa dari seberang sana, pernah ada seseorang yang membuat kita melihat sungai dengan cara yang berbeda.”
Orang tua itu tertawa kecil.
“Kalau begitu, kenapa perempuan itu selalu mengatakan hal buruk tentangmu?”
Lelaki itu mengambil sebuah batu kecil dan menjatuhkannya ke sungai.
Lingkaran-lingkaran kecil muncul, melebar, lalu perlahan menghilang.
“Karena,” katanya, “kadang lebih mudah mengatakan bahwa sebuah jembatan itu buruk daripada mengakui bahwa kita pernah berharap jembatan itu selesai.”
Sejak malam itu, lelaki tersebut berhenti memperhatikan apakah perempuan itu datang atau tidak.
Ia tetap hidup.
Tetap berjalan.
Tetap menyaksikan matahari tenggelam.
Sebab akhirnya ia memahami sesuatu yang sederhana:
Tidak semua orang yang gagal menyeberangi hidup kita akan berhenti memandang kita dari kejauhan.
Sebagian akan mengingat kita dengan baik.
Sebagian akan mengingat kita dengan marah.
Sebagian lagi mungkin harus memburukkan kita agar lebih mudah meyakinkan dirinya bahwa meninggalkan kita adalah keputusan yang benar.
Dan mungkin itulah cara manusia bertahan dari sesuatu yang tidak sanggup ia miliki.
Bukan karena sesuatu itu selalu buruk.
Tetapi karena terkadang, untuk bisa berjalan ke arah yang telah dipilih, seseorang harus meyakinkan dirinya bahwa ia tidak pernah kehilangan sesuatu yang berharga.
Sementara lelaki itu akhirnya mengerti:
Menjadi kemustahilan dalam hidup seseorang bukan berarti kita harus membuktikan diri sebagai kemungkinan.
Ada jarak yang tidak perlu dipersingkat.
Ada jembatan yang tidak perlu diselesaikan.
Dan ada orang-orang yang cukup kita biarkan berdiri di seberang; dengan segala penilaiannya tentang kita, sebab tidak semua yang gagal memahami kita harus kita paksa untuk mengerti.
Kadang, kedewasaan hanyalah kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri, bahkan ketika dari seberang sungai, seseorang memilih melihat kita sebagai sesuatu yang berbeda. Lelaki itu tampak mulai menua bersama rutinitasnya.

Komentar