Lelaki dan doa(jalan)nya yang panjang

Setelah  berhenti cukup lama_lelaki itu kembali berjalan.

Bukan karena ia tahu ke mana jalan akan membawanya, melainkan karena ia sadar; ada saat ketika seseorang harus pergi meskipun belum menemukan tempat untuk berhenti.

Di sepanjang perjalanan, ia belajar satu hal sederhana: tidak semua yang mengikuti harus diajak berjalan bersama.

Ada bayangan yang selalu setia berada di belakang tubuh. Ia mengikuti ketika matahari tinggi, memanjang ketika sore, bahkan kadang tampak lebih besar daripada pemiliknya sendiri. Namun, bayangan tetaplah bayangan. Ia tidak pernah benar-benar memiliki langkah.

Dulu ia sering menoleh.

Setiap kali merasakan sesuatu di belakang, ia berhenti dan memastikan. Apakah bayang itu masih ada? Apakah bayangan masih mengikuti? Apakah sang lelaki itu harus menunggu?

Semakin sering ia menoleh, semakin lambat langkahnya.

Sampai suatu ketika ia mengerti: mungkin yang membuat perjalanan terasa berat bukanlah sesuatu yang mengikutinya, melainkan kebiasaannya untuk terus memastikan bahwa sesuatu itu masih ada.

Maka kali ini sang lelaki memilih untuk terus melanjutkan perjalanannya. Bukan karena bayangan itu hilang. Melainkan karena ia memiliki kehendak yang amat dalam untuk berhenti memberinya arah.

-       -

Di sebuah persimpangan, ia menemukan dua papan penunjuk.

Yang pertama bertuliskan: “Jalan yang diinginkan orang lain.”

Yang kedua hanya bertuliskan: “Jalanmu.”

Ia berdiri cukup lama di sana.

Ternyata, menjadi bebas tidak selalu berarti mampu melakukan apa saja. Kadang kebebasan justru sesederhana berani memilih jalan tanpa harus meminta izin kepada setiap orang yang tidak ikut menanggung jarak yang akan kita tempuh.

Sebab pada akhirnya, hanya kakinya yang akan merasakan panjangnya perjalanan. Hanya kepalanya yang akan menanggung lelahnya. Dan hanya hatinya yang tahu mengapa ia harus berlabuh di suatu penantian.

 Ia pun memilih jalan kedua.

Bukan karena jalan itu lebih mudah.

Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa sedang berjalan sebagai dirinya sendiri.

-       -

Menjelang malam, ia berhenti di tepi laut. Beberapa lopo berbaris tanpa tuan. Angin menari tanpa harus diarahkan. Ia mengamati dengan mata sunyinya. Tampak laut tidak pernah melarang ombaknya pergi. Ia membiarkan ombak datang, menyentuh pantai, kemudian kembali kepada kedalamannya.

Barangkali begitulah seharusnya beberapa hal dalam hidup.

Tidak semua yang pernah sampai kepada kita harus tinggal. Tidak semua yang pernah dekat harus memiliki tempat selamanya. Dan tidak semua perpisahan membutuhkan permusuhan. Ada sesuatu yang cukup dilepaskan tanpa dibenci. Cukup dijauhkan tanpa harus dihancurkan.

Ia memandang laut cukup lama. Kemudian menyadari sesuatu yang sederhana:

Ketenangan bukan ketika tidak ada lagi yang mengejar kita. Ketenangan adalah ketika kita tidak lagi membiarkan sesuatu yang mengejar menentukan ke mana kita harus pergi.

Malam semakin turun. Ia pun kembali berjalan. Kali ini ia tidak menoleh. Bukan karena ia tidak peduli. Tetapi karena akhirnya ia mengerti bahwa hidup bukan tentang memastikan siapa yang masih berada di belakangnya. Hidup adalah tentang mengetahui ke mana seseorang hendak melangkah.

Dan mungkin, pada suatu titik dalam perjalanan, kita memang harus belajar meninggalkan beberapa suara di belakang; bukan karena suara itu tidak pernah berarti, tetapi karena kita tidak mungkin menemukan arah baru jika sepanjang jalan kita terus sibuk mendengarkan gema yang lama.

Anggap saja ini doa terpanjang yang pernah dilantunkan . . .



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog

"Querida: surat untuk yang tak pernah dibaca"

Lelaki di Sepanjang Kisah