Semoga Senja Kita Masih Sama

Ia tidak ingat sejak kapan senja menjadi topik perdebatan. Dulu senja hanyalah jeda; waktu ketika siang menyerah tanpa perlawanan dan malam datang tanpa suara. Ia hadir begitu saja, tanpa perlu disapa.

Sampai suatu hari, ia mendapati senja diminta dari orang lain.

Bukan permintaan yang tergesa. Tidak juga penuh rahasia. Kalimatnya ringan, hampir tak bermakna, sebatas pesan sederhana di awal tahun, tampak seolah hanya ingin menyimpan warna langit sebelum gelap. Namun justru dari kalimat yang terkesan ringan itulah, ia terasa berat. Sebab yang ringan sering kali menyimpan niat yang tak berani diberi bobot.

Ia tidak bertanya. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia sedang belajar memahami: tidak semua luka ingin dijelaskan, sebagiannya cukup untuk disadari.

Akhirnya, ingatan mengantarnya ke tepian pantai yang dipenuhi rumput dan karang; tempat mereka pernah mengejar langit dengan jingga yang tenang. Mereka tak pernah mempersoalkan jarak, apalagi jalan yang harus diciptakan sendiri di tengah semak dan genangan lumpur. Di sana tersimpan kisah tentang mimpi yang pernah disepakati dan luka yang sering mereka bagikan. Hingga secangkir kopi di tangan menjadi pengingat: ada lelaki yang menangis bukan karena kehilangan, melainkan karena dipaksa bertahan tanpa diberi pilihan.

Mereka duduk lama di antara suara ombak dan diamnya angin di pengujung jumpa. Di sana ia belajar bahwa tidak semua kehilangan berbentuk kepergian; sebagian tinggal, namun enggan untuk digenggam. Ia menyadari betapa manusia sering terjebak pada keadaan setengah; setengah percaya, setengah mengiklaskan, setengah curiga, setengah mencintai. Dan di titik itu, ia tidak benar-benar ditinggalkan, hanya tidak lagi dipilih sepenuhnya.

Sejak itu, ia melihat hubungan mereka seperti melihat senja dari balik kaca. Warnanya masih ada, cahayanya masih indah, tenangnya tidak berubah; tetapi sayangnya ada jarak yang tak bisa ditembus. Mereka tetap berbagi hari, berbagi cerita, berbagi rencana bahkan luka; namun ada sesuatu yang tidak lagi pulang sepenuhnya. Senja yang dahulu menjadi alasan untuk meninggalkan berkas penting di atas meja kerja; untuk meninggalkan lilin yang sedang menyalah di sudut kamar; kini akhirnya berubah jadi pengingat bahwa menjadi sepenuhnya tidak mudah. Ego dan kesetian selalu hadir bersama memperebutkan tempat.

Ia mulai mengerti bahwa meminta senja dari mata orang lain bukan lagi tentang ingin menikmati langit. Itu tentang kebutuhan untuk dilihat oleh hati yang berbeda. Tentang ingin dikagumi tanpa harus menjelaskan diri. Tentang merawat kemungkinan tanpa berani memilih. Tentang mencoba mencari rumah yang pikirnya lebih tenang. Tidak ada benalu (parasit) yang tumbuh di pekarangan dan suara anjing yang membuatnya muak.  Senja sekatika menggambarkan 'apa yang sudah' tapi masih dibalut dengan kalimat ‘tidak mungkin’.

Kebohongan tidak selalu muncul sebagai kebohongan. Kadang ia hadir sebagai kesopanan, sebagai percakapan yang tidak melewati batas, sebagai kesepakatan untuk berjumba, sebagai kesempatan untuk saling menolong walau hanya sekadar untuk memilih baju atau sepatu yang cocok.

Mereka bertahan. Bukan karena semuanya utuh, melainkan karena keterpecahan itu cukup halus untuk diabaikan. Tidak ada yang runtuh, hanya bergeser. Tidak ada yang hilang, hanya berubah rasa.

Kini, setiap kali senja datang, ia tak lagi mencarinya di langit. Ia mencarinya di dalam dirinya sendiri; apakah ia masih menjadi tempat pulang, atau sekadar persinggahan sebelum warna lain dipilih; warna yang kelak ingin ditinggali selamanya oleh orang yang selama ini berjalan bersamanya.

Dan di sanalah ia akhirnya paham: bila seseorang meminta senja dari orang lain, yang sedang dicari sebenarnya bukanlah keindahan langit, melainkan celah kecil untuk tiap kemungkinan yang membuat seseorang 'hidup lebih normal' dari sekarang.  

Pada akhirnya senja tetap setia pada waktunya. Manusia yang sering tidak setia pada kehadirannya sendiri. Maka ia memilih untuk tidak membenci senja. Ia hanya ingin belajar membaca tanda: bahwa kepenuhan tidak membutuhkan pengakuan dari langit dan kejujuran tidak pernah meminta warna dari tangan yang lain.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Querida: surat untuk yang tak pernah dibaca"

Lelaki di Sepanjang Kisah

Monolog