Nomor Antrean 1

Pagi di rumah sakit itu masih setengah hidup. Lantai koridor baru dipel, masih licin dan berbau karbol. Petugas kebersihan berjalan perlahan, menyeret ember, sementara sinar matahari menerobos kaca besar di ujung ruangan, memantul di lantai yang basah seperti cahaya yang sedang mencari arah.

Di antara deretan kursi tunggu, seorang lelaki dengan kalung hitam di lehernya duduk sendirian. Ia menggenggam selembar kertas bertuliskan Nomor Antrean 1. Nomor pertama, namun tidak ada loket yang buka. Komputer belum menyala, dokter belum datang, petugas pendaftaran belum juga muncul. Di atas meja administrasi, jam dinding berdetak lambat, seolah waktu ikut malas memulai hari.

Tidak ada suara manusia yang cukup hidup untuk mengusir sepi. Yang terdengar hanya dengung lampu neon dan langkah sepatu yang sesekali melintas. Sedang di halaman depan beberapa tampak lari terbirit-birit karena terlambat. Ia datang terlalu pagi; mungkin karena terbiasa bangun sebelum fajar, atau mungkin karena diam-diam ia tak ingin kembali terlalu cepat ke tempat tinggal barunya yang masih terasa asing.

Ia menarik napas panjang. Masih sulit menyebut dirinya “malaikat”. Kata itu terasa terlalu besar, terlalu kudus untuk seseorang yang di dadanya masih bergejolak banyak hal.

Sudah seminggu sejak ia dipilih. Ucapan selamat masih terngiang di kepalanya, tangan-tangan umat masih terasa di kulitnya, wangi minyak kudus masih membekas samar di jari-jarinya. Tapi di antara semua sukacita itu, masih ada ruang untuk sunyi yang terus tumbuh.

Ia pikir setelah hari itu, akan menghapus rasa sendiri.
Ternyata tidak.
Ia justru merasa lebih sendiri dari sebelumnya.

Di kursi rumah sakit itu, ia memandangi bayangannya di lantai yang basah.
Ia mengenakan pakaian sederhana, tanpa jubah, tanpa tanda. Dari luar, ia hanya terlihat seperti lelaki biasa yang menunggu giliran diperiksa. Namun di dalam kepalanya, riuh tak bisa padam:

Tentang keluarga yang kini sedang sibuk dengan banyak ritual duniawi. Tentang sahabat-sahabat yang perlahan menjauh, entah karena hormat atau canggung atau muak dengan sikapnya. Tentang seseorang yang dulu menatapnya lama sebelum perpisahan yang tak pernah diucapkan. Tentang kecewa pada seseorang yang sempat ia pikirkan menjadi rumah untuk setiap pulang. Tentang ingin memutar kembali waktu saat hidup hanya tentang untuk dinikmati. Tentang janji kemurnian yang suci, tapi juga sunyi.

Semua pikiran itu berdesakan seperti pasien di ruang tunggu. Dan di tengah keramaian dalam dirinya sendiri, ia sadar  yang paling membuatnya lelah bukanlah panggilan, melainkan usaha membujuk diri bahwa ia tidak kehilangan apa-apa.

"Semakin tinggi piala diangkat, semakin luka menemukan rasa. Semakin roti dipecah semakin sulir iklas mendapat tempat".  Sebab di balik setiap perayaan, ada pergulatan yang sunyi; antara memberi dan kehilangan, antara melayani dan sepi.

Ia mulai mengerti, bahwa setiap kali tangan mengangkat piala, bukan hanya anggur yang dipersembahkan, tetapi juga kepingan hatinya sendiri yang retak.
Setiap kali roti dipecah, bukan hanya Tubuh Tuhan yang dihadirkan, tetapi juga keutuhan dirinya yang perlahan diremukkan agar kasih itu kian nyata. Dan mungkin memang begitu hakikatnya: semakin seseorang menjadi tanda bagi yang lain, semakin ia harus rela menjadi luka yang tersembunyi; tempat rahmat mengalir diam-diam tanpa perlu disadari siapa pun.

Petugas akhirnya datang, tergesa.
“Maaf ya, bapak … komputer belum sempat dinyalakan,” katanya sambil tersenyum kikuk.
Ia membalas dengan senyum ringan. “Tidak apa,” jawabnya pelan.
Dalam hati, ia tahu; kalimat itu bukan hanya untuk petugas itu, tapi juga untuk dirinya sendiri. 

Tidak apa. Aku bisa menunggu.

Ia kembali menatap sinar matahari yang jatuh di lantai. Air pel yang belum kering memantulkan cahaya seperti permukaan air suci  bening, tapi menyimpan kedalaman. Di dalam pantulan itu, ia melihat dirinya sendiri: Seorang ‘malaikat’ muda yang baru dipilih, tapi masih belajar menjadi milik  Tuhan sepenuhnya, sementara bayang-bayang dunia belum benar-benar pergi.

Lalu sebuah pikiran muncul, lembut, nyaris seperti bisikan Roh yang tak bersuara:

“Kau tidak sendiri.
Kesendirianmu hanyalah tempat di mana Aku menantimu.”

Ia memejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak melawan sepi itu. Ia membiarkannya menyelimuti dirinya seperti selendang dingin yang perlahan menjadi hangat.

Ia sadar, mungkin memang tidak semua ikatan duniawi harus segera diputus. Beberapa perlu dibiarkan larut perlahan  agar cinta yang dulu manusiawi dapat berubah menjadi kasih yang ilahi.

Ia membuka matanya. Petugas memanggilnya, mempersilakan masuk. Ia berdiri, menatap nomor antreannya yang sudah kusut. Nomor satu; tapi baginya bukan lagi soal urutan. Ia tahu kini, menjadi ‘malaikat’ bukan tentang berada di depan, tapi tentang berani diam paling lama, di ruang tunggu kehidupan, bersama Tuhan yang sering datang terlambat tapi tak pernah alpa.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelaki di Sepanjang Kisah

"Querida: surat untuk yang tak pernah dibaca"

Monolog