Kanvas Kehidupan_Pukul 00:00 WITA
Ada perasaan yang datang seperti seorang peziarah: tidak membawa tuntutan untuk tinggal, tetapi juga tidak sepenuhnya siap untuk pergi. Ia hanya berdiri di batas-batas yang samar, di antara jarak dan kedekatan, seperti seseorang yang singgah di beranda rumah orang lain; tahu bahwa rumah itu hangat, lampunya menyala, ruang tamu tertata dan di dalamnya ada kemungkinan yang diberi nama bahagia. Namun pada saat yang sama ia juga sadar bahwa pintu itu tidak sepenuhnya miliknya untuk diketuk terlalu lama.
Perasaan semacam itu tidak selalu ingin merebut. Kadang ia hanya ingin duduk sebentar di tangga, menikmati cahaya yang tumpah dari jendela, menikmati sebatang rokok yang tertinggal di saku celana, seolah-olah sebagian kehangatan itu boleh ikut dirasakan.
Namun hati dicipta tidak sepenuhnya rasional. Ada saat ketika rasa itu percaya bahwa kebahagiaan bisa dijalani bersama, seperti dua orang yang tanpa sengaja menemukan jalan yang sama di persimpangan perjalanan. Tetapi di waktu lain, ia sadar bahwa seseorang telah lebih dulu melukis takdirnya dengan tangan yang lain; ada tuan dari cerita yang sudah lebih dulu menuliskan garis-garis takdir pada batas rumahnya. Maka kekaguman belajar menjadi tamu yang sopan: datang tanpa banyak suara, dan bila perlu pergi sebelum dianggap mengganggu.
Sebab rumah, pada akhirnya, bukan hanya tentang siapa pemiliknya atau siapa yang tinggal di dalamnya. Rumah juga tentang keinginan-keinginan yang kadang terlalu berani; keinginan untuk bertamu, untuk dipersilakan duduk, bahkan keinginan yang diam-diam pandai merayu agar diizinkan menginap; kendati hanya setengah malam. Bukan untuk merebut, melainkan untuk berteduh lebih lama dari kenyataan yang terlalu deras menderai; dari hujan kebenaran yang kadang jatuh tanpa payung, dan dari terik kenyataan yang tak selalu ramah bagi ingatan.
Ketika semua itu tidak mungkin, manusia masih memiliki satu wilayah yang tidak dapat diusir oleh siapa pun: angan. Di sana, perasaan dibiarkan menjelajah tanpa batas pagar. Menghabiskan tiap detik dengan perayaan rasa yang bebas. Ia membayangkan suatu saat; entah kapan, dua tangan yang berbeda mungkin saja sama-sama mengambil kuas dari sang pemilik kehidupan dan mencoba mewarnai kanvas yang sama. Tidak harus lukisan besar; mungkin hanya beberapa guratan senyum, beberapa warna hangat yang sempat tercipta sebelum takdir kembali mengambil alih dan lebih kejam dari hari ini.
Pada akhirnya, ada perasaan yang memilih tinggal bukan karena diterima, tetapi karena ia tidak pernah benar-benar diusir. Ia berdiam di ruang yang tak bernama; di antara kemungkinan dan keheningan. Bagai jejak pada langkah di pasir yang perlahan dihapus angin, namun entah bagaimana tetap terasa pernah ada.
Dan mungkin memang demikian cara beberapa rasa hidup: tidak untuk dimiliki, tidak pula sepenuhnya hilang. Ia hanya menjadi bayang yang berjalan sejajar dengan waktu, sesekali menoleh pada cahaya yang dulu sempat membuatnya percaya bahwa dunia bisa lebih hangat dari yang ia kira.
Lalu kehidupan kembali berjalan, membawa semua orang ke arah yang berbeda. Tetapi di suatu tempat yang tak dapat ditunjuk oleh peta mana pun, masih ada sebuah lukisan yang belum selesai. Bukan karena pelukisnya berhenti, melainkan karena sebagian warna yang enggan mewujud doa-doa dengan akhiran amin-nya, dan barangkali suatu hari; esok hari atau lusa nanti, warna-warna yang sempat mengusik benaknya itu benar-benar menemukan kanvasnya.

Komentar