Perjalanan yg Tidak Pernah Sampai
Ada seorang lelaki yang selalu berjalan.
Tidak ada yang tahu dari mana ia berasal. Bahkan ia sendiri mulai lupa nama kampung halamannya. Yang ia ingat hanyalah satu hal: suatu hari ia merasa hidupnya terlalu sepi untuk tinggal diam. Maka ia pergi.
Awalnya ia mengira perjalanan adalah tentang menemukan tempat terbaik untuk menetap. Ia mendaki gunung, menuruni lembah,
menyeberangi laut, memasuki desa-desa yang dipenuhi cahaya. Setiap tempat memberinya harapan baru: “Mungkin di sinilah akhir pencarianku.”
Tetapi setiap kali ia tiba, sesuatu di dalam dirinya kembali gelisah.
Ketika miskin, ia berpikir uang akan menenangkan jiwa. Saat uang datang, ia menemukan kesepian yang lebih mahal dari kemiskinan. Ketika ia dikenal banyak orang, ia justru kehilangan dirinya sendiri di tengah suara-suara yang memanggil namanya; tidak sedikit orang menambahkan gelar di belakangnya. Ketika ia memilih hidup sunyi, pikirannya sendiri berubah menjadi keramaian seperti di persawahan saat musim panen
Ia mulai sadar:
setiap jawaban ternyata melahirkan pertanyaan baru.
Seperti jalan setapak di perbukitan; setelah satu tanjakan dilewati, muncul tanjakan lain yang sebelumnya tersembunyi oleh kabut.
Pada suatu malam, ia duduk di pinggir jalan bersama seorang lelaki tua yang sedang menyalakan api kecil.
“Apa yang kau cari?” tanya lelaki tua itu.
“Aku mencari tempat di mana hati bisa berhenti berjalan,” jawabnya.
Orang tua itu tertawa pelan.
“Kalau begitu, kau sedang mencari sesuatu yang bahkan tidak dimiliki dunia.”
Lelaki muda itu terdiam.
Api kecil di depan mereka menari bersama angin malam.
“Kau tahu,” lanjut lelaki tua itu, “manusia sering mengira hidup adalah perjalanan menuju tujuan. Padahal hidup lebih mirip ziarah tanpa terminal.”
“Lalu untuk apa berjalan sejauh ini?”
“Untuk menjadi.”
Jawaban itu terdengar aneh.
“Menjadi apa?”
“Menjadi seseorang yang cukup luas untuk menerima bahwa hidup tidak pernah selesai dipahami.”
Malam itu lelaki muda tidak tidur. Ia memandangi langit dan merasa aneh: untuk pertama kalinya ia tidak ingin segera tiba di mana pun.
Ia mulai memahami bahwa penderitaan terbesar manusia bukan karena jalan terlalu panjang, tetapi karena manusia selalu memaksa hidup memberikan akhir yang jelas. Padahal hidup sering kali hanya memberi jeda, bukan titik.
Keesokan harinya ia kembali berjalan menelusuri jalanan.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Dulu ia berjalan untuk mencari akhir.
Sekarang ia berjalan untuk belajar mendengarkan.
Ia mendengarkan suara hujan di atap gubuk.
Ia mendengarkan kesedihan orang-orang yang ditemuinya.
Ia mendengarkan dirinya sendiri yang selama ini terlalu sibuk berlari.
Dan semakin jauh ia berjalan, semakin ia sadar:
tantangan hidup tidak pernah benar-benar selesai.
Ketika seseorang berhasil melawan kemalasan, ia akan berhadapan dengan kesombongan.
Ketika ia berhasil mengalahkan kesombongan, ia akan diuji oleh kesepian.
Ketika ia mampu melewati kesepian, ia akan digoda untuk merasa suci.
Manusia ternyata tidak sedang mendaki satu bukit, melainkan rangkaian bukit berbaris tanpa ujung.
Tetapi justru di sanalah kehidupan menemukan maknanya.
Sebab sungai tidak menjadi sungai karena ia berhenti.
Ia menjadi sungai karena terus mengalir.
Begitu juga manusia.
Mungkin kita memang tidak diciptakan untuk “selesai.”
Mungkin kita diciptakan untuk terus mencari jalan yang disebut ‘hidup kekal’ melalui luka, kehilangan, perjumpaan, dan perjalanan-perjalanan yang tidak pernah benar-benar usai.
Dan lelaki itu terus berjalan.
Bukan karena ia tersesat.
Tetapi karena akhirnya ia sedikit mengerti:
ziarah terbesar manusia bukan menuju suatu tempat, melainkan menuju rumah dirinya sendiri.

Komentar