Semoga Senja Kita Masih Sama
Ia tidak ingat sejak kapan senja menjadi topik perdebatan. Dulu senja hanyalah jeda; waktu ketika siang menyerah tanpa perlawanan dan malam datang tanpa suara. Ia hadir begitu saja, tanpa perlu disapa. Sampai suatu hari, ia mendapati senja diminta dari orang lain. Bukan permintaan yang tergesa. Tidak juga penuh rahasia. Kalimatnya ringan, hampir tak bermakna, sebatas pesan sederhana di awal tahun, tampak seolah hanya ingin menyimpan warna langit sebelum gelap. Namun justru dari kalimat yang terkesan ringan itulah, ia terasa berat. Sebab yang ringan sering kali menyimpan niat yang tak berani diberi bobot. Ia tidak bertanya. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia sedang belajar memahami: tidak semua luka ingin dijelaskan, sebagiannya cukup untuk disadari. Akhirnya, ingatan mengantarnya ke tepian pantai yang dipenuhi rumput dan karang; tempat mereka pernah mengejar langit dengan jingga yang tenang. Mereka tak pernah mempersoalkan jarak, apalagi jalan yang harus diciptakan ...