Nomor Antrean 1
Pagi di rumah sakit itu masih setengah hidup. Lantai koridor baru dipel, masih licin dan berbau karbol. Petugas kebersihan berjalan perlahan, menyeret ember, sementara sinar matahari menerobos kaca besar di ujung ruangan, memantul di lantai yang basah seperti cahaya yang sedang mencari arah. Di antara deretan kursi tunggu, seorang lelaki dengan kalung hitam di lehernya duduk sendirian. Ia menggenggam selembar kertas bertuliskan Nomor Antrean 1. Nomor pertama, namun tidak ada loket yang buka. Komputer belum menyala, dokter belum datang, petugas pendaftaran belum juga muncul. Di atas meja administrasi, jam dinding berdetak lambat, seolah waktu ikut malas memulai hari. Tidak ada suara manusia yang cukup hidup untuk mengusir sepi. Yang terdengar hanya dengung lampu neon dan langkah sepatu yang sesekali melintas. Sedang di halaman depan beberapa tampak lari terbirit-birit karena terlambat. Ia datang terlalu pagi; mungkin karena terbiasa bangun sebelum fajar, atau mungkin karena diam-dia...