Monolog

Dari kejauhan, sang lelaki menatap sebuah bangku kayu yang bersandar tenang pada pohon lontar di ujung taman. Bangku itu tampak biasa saja; kecil, usang, diam, sepi, dan tak menarik bagi mata yang terburu. Namun pada diamnya, ia menyimpan isyarat yang padat makna: percakapan-percakapan yang tak pernah selesai, canda dan tawa yang pernah bergema, tuntutan yang dibalut lebih halus dalam bentuk sembayang dan luka-luka dari beragam manusia yang pernah ditinggalkan di sana. Bangku kayu itu tidak sesederhana seperti yang ditangkap oleh mata sang lelaki. Ia bukan sekadar tempat duduk atau spot untuk beristirahat; bukan sekadar persinggahan sementara bagi tubuh yang lelah. Ia adalah saksi; (menjadi bekas) tempat segala hadir dan pergi, menyatu dalam keheningan yang tak menuntut . Ia tak goyah, meski terkadang lama tak diduduki. Ia tetap berdiri, seperti pohon lontar di belakangnya, tegak dalam kesendirian, dan seakan bersedia menua dalam keteguhan, jika ia boleh sedikit memaksa ken...